Rabu, 28 Desember 2011

Hanya Menyiapkan Kejutan

Hari ini tepat tanggal 5 Agustus. Tepatnya pukul 07.22. Suasana ruangan kantor selalu tampak mempesona, tirai-tirai jendela sengaja dibuka sebagai tanda untuk mempersilahkan sinar matahari ikut bekerja, layar monitor komputer sudah tidak sabar untuk segera digunakan, telepon-telepon pada setiap meja belum saling bersahutan. Lantai lantai keramik kantor, terlihat bersih menyerupai cermin, sebagai tanda untuk siap merefleksikan segala bentuk aktivitas diatasnya. Lalu Terdengar sayup sayup percakapan para penghuni kantor dari luar ruangan yang datang hampir bersama sama. Lalu Satu persatu, para penghuni kantor mulai memasuki ruangan yang mempesona itu. Para penghuni kantor yang hanya berjumlah 4 orang. Ya, hanya 4 orang. Pak Sam, Mas Bagas, Mba Catur, dan Tarmin. Namun meskipun hanya dengan 4 orang, mereka dapat bekerja layaknya 8 orang. Pak Sam, pria yang tampil percaya diri dengan ubannya adalah pemilik perusahaan sekaligus kantornya, dan melingkup sebagai manajer. Sedangkan pria berkemeja polos dan berambut keriting itu adalah Mas Bagas, seorang desainer grafis melingkupi produksi nya Kantor ini. Satu satunya perempuan yang ada di kantor ini ialah Mba Catur, perempuan bertubuh agak gemuk namun memiliki sorotan mata yang dapat melumerkan pria yang segarang apapun ini adalah sebagai sekertaris, meliputi marketing dan kepegawaian. Dan yang terakhir adalah Tarmin, pria yang setiap hari tinggal di suatu ruangan menyerupai kamar, yang berada di lorong dekat pintu keluar. Tarmin merupakan seorang pria muda berumur 23 tahun yang ditugasi untuk membantu Pak Sam, Mas Bagas dan Mba Catur untuk membuat pekerjaan mereka menjadi lancar. Terkadang Tarmin membuatkan tiga cangkir kopi untuk mereka, atau kadang, membuatkan mie kuah untuk Mba Catur, atau bahkan menemani Mas Bagas merokok di luar kantor pada sela sela makan siang sampai menjadi pengawal pribadi Pak Sam dalam urusan urusannya. Bisa dibilang Tarmin ini adalah orang yang cukup berjasa bagi ketiga orang itu, karena tidak jarang mereka dengan gampangnya memanggil Tarmin yang sedang menyapu, mengelap kaca, atau bahkan sedang bersantai hanya untuk menyuruh Tarmin menyeduhkan kopi atau memasak mie instan. Namun raga pria bertubuh kurus dan berkulit putih itu tidak pernah sekalipun menerjemahkan bentuk keluhan.


Kantor ini adalah kantor yang bergerak di dunia periklanan yang baru berdiri sekitar 2 tahun yang lalu. Maka dari itu ruangan yang didesain pun tidak terlalu luas, yang penting dapat memberikan kenyamanan dan kebersamaan, tanpa harus mengubah karyawannya menjadi seorang penjilat antara satu dengan lainnya. Dan pada tanggal 5 ini adalah waktunya para penghuni mendapatkan hasil dari keringatnya sendiri yang ditampung oleh perusahaannya. Sedikit jenaka, karena pada saat pembagian Gaji tersebut terlihat lebih seperti pembagian uang jajan yang dibagikan dari tangan Pak Sam untuk karyawan lainnya. Seolah Pak Sam itu adalah seorang kakek yang membagikan uang jajan kepada cucu-cucu nya. Semua Karyawan tampak senang. Tidak terkecuali Tarmin. Lelaki muda berusia 23 tahun itu terlihat berseri-seri, raut wajahnya seperti menerjemahkan sebuah kegembiraan yang sangat berarti, binar matanya juga tampak jelas bercahaya, seakan-akan setiap tanggal 5 itu merupakan kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya. Tarmin tampak tersenyum lebar, entah mengapa senyum setiap tanggal 5 dan setiap tanggal 29 terkadang berbeda, jauh berbeda. Sapaan dari masing masing karyawan, menimbulkan resonansi yang sangat enak didengar di ruangan kantor itu. Sekali lagi, “hari ini adalah waktunya pembagian uang jajan dari Pak Sam”. Kira-kira seperti itulah ungkapan canda yang dilontarkan oleh mereka.


2 tahun yang sudah mereka lalui, membuat mereka saling mengenal karakteristik satu sama lainnya. Dan bisa saja menimbulkan ketertarikan yang lebih antar karyawan lainnya. Dalam hal ini adalah Tarmin.


Sudah lama Tarmin menyimpan perasaan terhadap Mba Catur, terlihat dari bentuk perhatiannya selama 2 tahun terhadap Mba Catur, seperti selera mie instan Mba Catur yang tidak terlalu matang, atau kopi hitam yang tidak terlalu pekat, sampai kepada takaran gula yang pas untuk kopinya. Pernah juga, suatu kali, jaket Mba Catur tertinggal di dalam Kantor, dan lusa nya, jaket tersebut sudah dalam keadaan yang rapih dan bersih. Dan Mba Catur menatap sambil berbicara kepada Tarmin. “Tarmin, lain kali kalo ada barang apapun yang tertinggal di Kantor, jangan kau cuci atau rapihkan. Bisa-bisa lain waktu saya akan pura-pura menaruh dan meninggalkan cucian saya di dalam kantor ini, agar kamu cuci, hehehe”. Tarmin pun terlihat malu sekaligus takjub terhipnotis tatapan mata Mba Catur yang sangat lembut melebihi kelembutan jaket yang pernah dicuci oleh Tarmin. “mbaik mba, sengaja ditinggal pun akan saya cuci dan rapihkan”. Jawab Tarmin sambil tersipu. Mba Catur pun menimpali nya “hahaha Tarmin.. Tarmin, aku cuman becanda loh, jangan sampai aku memiliki inisiatif untuk membuatnya menjadi serius”. Dan seketika itu, tawa mereka berdua terdengar sayup di dalam ruangan kantor juga di antara Mas Bagas dan Pak Sam. Mungkin tidak hanya itu saja yang berhasil membuat hati Tarmin menjadi lebih merekah. Pernah suatu hari, ketika terjadi hujan lebat, Tarmin mengantarkan Mba Catur pulang sampai Mba Catur mendapatkan angkutan umum menuju rumahnya, karena Mba Catur kebetulan sedang lembur dan Mas Bagas serta Pak Sam lebih dahulu pulang. Dan juga Mba Catur tidak membawa payung, alhasil Tarmin mengantarkan Mba Catur dengan menggunakan payung kantor yang cukup besar untuk menaungi 2 orang di bawahnya sampai menuju seberang, tempat Mba Catur memberhentikan angkutan umum. “Mba, payungnya Mba bawa saja sampai rumah, takut-takut nanti ketika turun dari angkot, hujannya masih belum berhenti” Tarmin hampir berteriak, karena suara hujan lebat yang cukup berisik. “Lalu kamu bagaimana Tarmin, kamu kan butuh payungnya untuk sampai kantor di seberang, kalo payungnya aku bawa, bisa-bisa kamu basah kuyup ketika sampai seberang sana”. Mba Catur pun berusaha mengimbangi suara Tarmin tadi. “tidak apa-apa kok Mba, jarak saya dari sini ke kantor hanya dipisah oleh jalan raya saja kan? Kalo Mba kan beda, Mba mesti mengendarai angkutan umum dulu sebelum sampai di rumah, belum lagi ketika turun dari angkutan umum, takutnya di daerah tempat tinggal Mba, hujannya masih blum berhenti, jadi bawa saja dulu Mba payungnya”. Tarmin kembali berteriak dengan badan yang sedikit kebasahan. “Baik kalo begitu, terima kasih Tarmin, sesampainya di Kantor, kamu buat saja mie instan buatanmu sendiri, dijamin nikmat, hehehe”. Mba Catur terlihat berbicara sambil dengan wajah yang cukup basah akibat hujan yang cukup lebat. Tarmin cukup menganggukan kepalanya sambil tersipu malu. Lalu dia memberhentikan angkutan umum untuk Mba Catur. “terima kasih Tarmin sudah mau mengantar dan meminjamkan payungnya” terlihat paras, suara dan harum parfum Mba Catur segera berlalu mengikuti angkutan umum yang dinaikinya. Dan Tarmin terlihat bahagia, terbukti, ketika Tarmin tersenyum bahagia walaupun sambil menyeberang jalanan yang diguyur oleh hujan lebat. Dan dalam rutinitas sehari-hari nya pun, Tarmin tampak lebih memperhatikan Mba Catur dengan bertanya “Mba Catur, Mba mau makan apa siang ini? Biar saya belikan”. Atau “Mba sudah sarapan? Kalau belum, saya bisa buatkan Mba telur mata sapi. Terlalu sering mie instan, itu tidak baik Mba”. Mas Bagas juga Pak Sam lambat laun mulai menyadari hal ini, dan mereka memilih untuk tidak terlalu banyak berkomentar.


Beragam catatan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa sekecil apapun yang terdapat pada rutinitas mereka, itu sangat bermakna bagi Tarmin, bahkan pikiran radikalnya dengan lancang menyebutkan bahwa, lebih baik dia basah kuyup kehujanan, asal bisa berdekatan dengan Mba Catur dalam satu payung. Namun, sekali lagi Tarmin tahu diri, tentang keberadaan dirinya dan perbedaan umur keduanya yang berbeda 4 tahun. Tarmin 23 dan mba Catur 27.


Dalam setiap harinya, rutinitas kantor tersebut selalu menyenangkan. Sifat Mas Bagas yang humoris dipadu dengan Pak Sam yang menganggap karyawan itu sebagai sahabatnya, membuat keakraban pun semakin erat dari waktu ke waktu sampai gelak tawa di ruangan itu menjadi lebih sering terjadi, bahkan seringkali mereka ber empat dapat menghabisakn waktu makan siang mereka hanya dengan tertawa sampai terbahak-bahak. Pak Sam yang dermawan pun, selalu menjadi pusat kesenangan para karyawannya. Ketika perusahaannya memenangkan tender untuk iklan produk, Pak Sam tidak segan–segan mengajak para karyawannya untuk makan di luar. Namun diantara gelak tawa yang memenuhi ruangan itu, terkadang tersembunyi sebuah kesedihan yang ikut bersembunyi di sela sela jam dinding, di sela pembatas buku, atau menyelinap masuk ke dalam lemari arsip dan yang paling parah, membuat Tarmin sedikit sesak. Ya, Tarmin tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang telah tumbuh kurang lebih selama 2 Tahun, terkadang ia butuh mengungkapkan segalanya, namun ia bingung campur takut, ia takut kalau-kalau Mba Catur malah menjauhi dirinya ketika Mba Catur tahu bahwa ia menautkan perasaan padanya. Dan Tarmin tidak berniat untuk menceritakan hal ini kepada Mas Bagas apalagi kepada Pak Sam.


Tanggal 19 Agustus. Ketika jam makan siang. Mas Bagas mengajak Tarmin untuk menemaninya merokok di luar kantor. Dan tetiba, Mas Bagas melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup membuat Tarmin terkaget-kaget. “Min, besok itu ulang tahunnya Catur loh, sudah ada rencana, untuk memberikan dia hadiah, Min?” sambil tangan Mas Bagas meraih cangkir kopi di meja istirahatnya. “Tidak Mas, saya masih malu Mas, Mas tau sendiri kan, dari tahun ke tahun saya tidak pernah memberikan Mba Catur hadiah”. Timpal tarmin. Bagas menurunkan cangkir kopinya dan kembali menyalakan batang rokok ke 2 nya, sambil berusaha memberikan pengertian kepada Tarmin. “Justru ini kesempatan kamu Min, kapan lagi kamu bisa nyoba ngasih hadiah atau kejutan buat Catur? Belum tentu tahun depan itu suasana nya sama kaya gini. Gini lo Min, sebagai seorang pria, aku ngerti kok, apa yang kamu rasakan. Namun tidak ada salahnya kita nyoba Min, setidaknya kita mencoba mengungkapkan perasaan kita dalam bentuk lain, dalam hal kejutan atau hadiah”. Mas Bagas terlihat lebih meyakinkan rekan kerjanya itu agar Tarmin, mau mengiyakan saran darinya. “baiklah Mas Bagas, saya akan mencobanya besok”. Terlihat simpul senyum kecil yang muncul dari bibir Tarmin sebagai bentuk bahwa ia setuju akan saran dari Mas Bagas. Mas Bagas pun menepuk bahu Tarmin, sebagai tanda bahwa Mas Bagas ikut mendukung rekannya itu. Tarmin pun memikirkan, kira-kira kejutan apa yang akan ia berikan untuk memaknai hari lahir nya Mba Catur, agar secara spontan, Mba Catur sendiri menjadi terkesan atasnya.


Tanggal 20 Agustus. Cuaca 07.22 ini cukup sejuk, jendelanya dibiarkan terbuka, agar semilir angin dapat mengisi kursi-kursi yang masih kosong belum terisi, disambut dengan sinar matahari yang membalut hangat, sebagai penyeimbang sejuknya udara pagi ini. Ruangan kantor itu masih terlihat sepi, namun sepertinya pandangan tersebut dilayangkan kepada meja Mba Catur yang sudah dihias menggunakan pita-pita merah muda yang diikat pada kaki-kaki kursi melewati kabel-kabel komputer sampai memunculkan simpul-simpul manis yang berada tepat di meja kerja Mba Catur, Cangkir kopi berwarna coklat muda yang merupakan warna kesukaan Mba Catur, dipadu dengan vas bunga yang berada tepat di ujung meja kerja nya. Tak lupa sepucuk surat yang dibungkus menggunakan amplop cokelat muda juga, tersimpan manis di depan monitor komputer Mba Catur. Dari dalam ruangan dekat pintu masuk yang masih terkunci, Tarmin tersenyum tersipu malu, menyaksikan pekerjaannya semalam, dalam menghias meja kerja Mba Catur dan menyiapkan kado serta menulis surat untuk Mba Catur.
Isi surat itu berbunyi :
Selamat Pagi Mba Catur, Mba Catur sempat sarapankah tadi? Kalau tidak sempat, saya akan buatkan telur mata sapi kesukaan Mba, terlalu sering makan mie instan itu kurang baik Mba. Saya sengaja buatkan Mba Catur teh manis panas bukan kopi hitam encer seperti biasanya, sengaja Mba, biar Mba ngadepin kerjaan pagi ini dengan rileks dan pikiran yang tenang. Waduh, saya hampir lupa mengucapkan Mba, hari ini Mba mengulang tanggal pada Tahun yang berbeda, umur Mba bertambah menjadi 28 tahun, saya tidak ingin mengucapkan selamat, namun saya ingin mendoakan, selalu mendoakan agar apa yang Mba inginkan dapat terwujud, amin. Mohon maaf Mba, kali ini saya berani lancang, saya lancang karena saya ingin mengutarakan suatu hal kepada Mba Catur, maaf kalo tidak berkenan. Selama 2 tahun ini, saya hidup jauh dari dunia luar Mba. Saya tinggal di dalam ruangan ini, bangun di ruangan ini, tidur juga di ruangan ini, namun saya tidak ingin hati saya, saya buat bisu di ruangan ini. Saya ingin, hati saya berbicara, menerjemahkan segala hal yang ia temui, yang ia rasakan, atas dasar semua rutinitas yang saya jalankan. Hati saya berbicara bahwa ternyata saya dan hati saya telah jatuh dan tenggelam kedalam diri Mba Catur seutuhnya. Iya betul Mba, saya mencintai Mba Catur sedari kita mulai menjalankan rutinitas bersama-sama dalam kantor ini. Hanya saya berani mengungkapkannya sekarang. Namun Mba, perlu diingat, bahwa Cintaku ini adalah cinta yang bebas. Cintaku ini adalah cinta yang tidak ingin merangkul. Cintaku ini hanya kejutan mba, dan biarlah cintaku ini tetap dalam kejutannya, dari waktu ke waktu. Agar Mba Catur dapat merasakan setiap kejutan dari perasaanku, setiap waktu. Berbahagialah Mba, dengan siapapun Mba bertemu. Hanya jangan denganku, karena aku hanya bisa memberikan kejutan saja, bukan memberikan keutuhan. Mba tak perlu berkomentar, tak perlu menjawab, cukup tatap mata saya dan kita menjalankan aktivitas serta rutinitas seperti sebelumnya, tanpa harus dibebani oleh perasaan. Biarkan perasaan Mba jadi kejutan untuk saya. Terima kasih Mba, telah mengizinkan saya untuk berterus-terang. Sekali lagi terima kasih mba”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar