Rabu, 07 Desember 2011

Makhluk yang bernama IDE



Setelah merasuk Kamu tiba tiba menyeruak! memaksa keluar seperti golakan air panas yang telah mencapai titik didih maksimalnya. Hingga memaksa pemiliknya untuk segera menuangkannya. Aku tidak pernah tau kamu bersembunyi dimana, hingga tau tau kamu sudah seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya disaat lengah. Dan kamu pun segera menerkam! tak pernah memberiku ancang ancang untuk menghindari diri dari terkamanmu, sampai mampus! aku dibuat mati perlahan. Kamu juga pelari yang ulung! Aku berusaha berlari dari seranganmu, namun tau tau kau sudah lebih dekat, (seolah olah) sejajar dengan nadi-ku. Mampu apa aku? (!) Jika nafasku saja sudah ditulari oleh mu. Dan anehnya. Kau terus begitu! Meskipun aku berlari secepat mungkin sampai nafasku hampir habis! kau tetap ada pada (seolah olah) masih sejajar dengan nadiku, aneh. Aku sudah berusaha mengubur diri dengan pasir. Malah kerikil. Namun kamu dengan cerdiknya menyusup melewati partikel partikel itu, merasuki tubuhku sampai kerasukan! Hingga aku mengerang, kaupun enggan keluar. Lalu aku mulai membiarkanmu hidup dalam hidupku! membiarkanmu berdiri dalam diriku! Membiarkanmu diam dalam diamku! Sampai aku tertidur, kamu menjelma menjadi sebuah birahi yang terus memaksa aku untuk orgasme, sampai mani mengerak pun! kamu masih enggan pergi. Sampai aku tak bisa tidur karena kamu berubah menjadi elegy yang hadir dalam lamunanku. Kala itu aku bersumpah, jika kamu mencoba menerkam lagi seperti binatang buas, atau kamu mencoba mempermainkan syahwatku lagi aku akan memandikan diriku dengan minyak tanah lalu aku akan membakar diriku agar kamu ikut terbakar, adil bukan? (!)

Beberapa waktu, aku mulai membiasakan kehadiranmu dalam diriku. Terbalik. Seharusnya kamu yang membiasakan dirimu dengan diriku, bukan aku. Namun aku tak ingin terkamanmu mengentikan nafasku lagi. Mau tidak mau aku harus merawatmu dan menjinakanmu, karena aku tau kamu juga sebenarnya makhluk, lebih mulia daripada iblis (malah) . emhh juga melebihi manusia, sejajar dengan nabi (barangkali), hampir. Hanya kamu tak punya raga, maka dari itu kamu selalu merasuki raga setiap manusia. Dan kenapa tidak binatang saja? (!). Dari waktu ke waktu aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu, dan lama kelamaan kita menjadi seorang rekan. Meskipun masih sering kudapati diriku sendiri mencurigai rekanku ini, namun apa mau dikata. Kamu juga tidak pernah mau bercakap cakap denganku, hanya diam saja. Dan Sungguh aneh, aku memiliki rekan yang padahal aku sendiri tidak tau rekanku itu berada dimana, yang aku tahu, rekanku itu berada dalam tubuhku, hanya percisnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Sewaktu waktu, aku mencoba menebak nebak, mungkin saja kamu berada di dalam nadiku, namun setelah ku iris nadi ku dengan sebilah pisau, aku tak mendapati, hanya darah yang keluar deras seperti aliran turbulen. Lalu aku menyimpulkan bahwa kamu berada di antara dua paru-paru, menyerap bersama karbondioksida yang aku hembuskan. Sampai aku sengaja masuk ke ruang hampa, namun aku tak mendapati mu juga. Oh, atau mungkin kamu bersembunyi di sela sela impuls otakku ini, atau mungkin kamu ada bersama detak jantungku, di sela kulit ku, tulang rawan, jari kuku, atau penis? Ah jangan sampai terjadi jika kamu mencoba berdiam di tempat itu. Rasanya aku mencoba menyebutkan semua organ dan indera pada tubuhku sampai tak ada yang terlewati pun, kamu tidak akan kudapati juga. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku lagi, yaa sebagai bentuk interaksi denganmu juga bukan? Tapi aku kira, kamu ini ajaib. Tidak pernah merasa lapar, namun lantas kenapa kamu mencoba menerkamku pada waktu itu, jika kamu menerkamku tapi tidak dimakan pada akhirnya. Sudahlah, aku sepertinya terlalu banyak dendam terhadapmu, maafkan aku ya rekanku. Dengan cara apa ya, aku mengajakmu bermain? Tidak mungkin aku mengajakmu bermain layang-layang sedangkan kamu sendiri adalah layang-layang bagi diriku sendiri, maen kelereng, Ah sudahlah, kamu diam saja disitu, meskipun aku tidak tahu kamu dimana. Dan ikutlah bersamaku kemanapun aku pergi.

Sewaktu waktu, aku berdiskusi bersama teman kampusku, tiba tiba ada yang membisiki telingaku, sampai sampai aku bisa berdiskusi dengan lancarnya. Ketika aku melakukan presentasi di kelasku, tiba tiba (lagi) ada yang membisiki telingaku lagi, sehingga aku berhasil melakukan presentasi itu layaknya seorang tenaga pengajar yang paham akan apa yang disampaikannya. Dan yang paling paling ketika aku mulai mencoba untuk menulis. kamu berteriak namun merdu kepada telingaku, merubah susunan sistem syarafku sehingga aku paham, membuat kulitku berkeringat bersamaan dengan detak jantungku yang semakin menyepat, kamu terus berteriak kepada telingaku, namun aku masih tidak tahu, sumber suarua mu itu darimana asalnya. Kamu juga mencoba menuntun jari jari tangaku dalam memilah kata hingga tulisanku mengalir sebegitu lancar. Terus menerus seperti sihir yang menyisir tiap bagian tubuhku, menyulap meskipunn aku dalam keadaan gagap. Dan sekali lagi kamu membantuku dalam setiap proses pencapaianku. Aku semakin senang bisa berkenalan dengan kamu, rekanku. Setiap hari kamu selalu membawa sesuatu yang baru, untukku.

Tiba tiba kudapati kamu pergi, menghilang, melayang entah bagaimana. Aku hanya merasakan perbedaan. Seolah diriku ini ditinggalkan oleh pengendali kedua ku selain rohku sendiri. Hampa, nafasku tak lagi tertular olehmu, nadiku bergerak stagnan, konstan. Tak pernah kurasa jantungku berdegup kencang, keringatku nyaris kering, telingaku tak ada yang membisikiku lagi, impuls impuls syaraf seperti mati tidak ada koneksi, diskusiku tak selancar waktu itu, apa yang ku presentasikan terkadang terkesan kaku. tak ada jamahan lagi terhadap tubuhku. Kamu dimana? Nyyaris aku berteriak ketika aku merasa kehilanganmu. Aku bergegas mencari mu, barangkali kamu ada di balik selimutku, namun tak ada. Di balik bantal, juga tidak. Aku cari di layang-layang yang pernah kita terbangkan, juga sama. Dibalik gelas kopi yang sering kita minum bersama, juga tidak. Kucari di asap rokok yang sering kita hisap bersama, juga sama sekali tidak ada. Aku cari ke tempat kita pertama kali bertemu dulu, sama sekali tidak ada jejakmu. Aku cari ke tempat kamu menerkamku dulu, ke tempat dimana kamu mengejarku dengan segala ketidaknyataan mu, tetap tidak ada. Sampai aku mengubur diriku sendiri, berharap kamu merasuki ku seperti kala itu. namun sampai sekarat kamu tidak datang. Aku pasrah dan menyerah, kukerahkan segala yang kupunyai untuk mencarimu namun kamu tak pernah menampakkan diri. Hampir menangis aku dibuatmu. Dan lalu aku pun tidak hampir lagi, spontan menangis.

Aku pun pasrah dan menyerah, sambil berjalan dalam kesunyian, kesepian dan kesendirian. Sehingga sampailah aku pada sebuah ketenangan, dimana aku bisa menyadari peran diriku sendiri. Menyadari dimana keberadaanku sendiri. Tiba tiba…. Kamu datang menyapa ku dengan suaramu yang khas, yang datang entah darimana asalnya, yang hanya ada diantara nyata dan tidak nyata. Aku pun sedikit berteriak yang juga entah kemana. Kenapa kamu tidak menerkamku lagi, kenapa kamu malah pergi, sehingga aku mencari arti. Aku telah kehilangan kamu, rekanku. Lain kali kalo kamu ingin pergi untuk bermain sejenak, tolong kabari. Agar aku tidak kembali mencarimu, sampai aku harus mengubur diriku sendiri. Jangan takut aku tidak memperbolehkan mu. Aku akan mengangguk, jika kamu memang ingin pergi, rekanku. Namun aku hanya ingin kamu kembali pada ku, entah dengan cara apapun, terserah. Aku hanya merasa kurang jika kamu pergi. Aku janji, akan merawatmu dengan segala yang kupunyai, agar kamu tak pergi lagi.

Dan aku pun mengerti. Rekanku ini mengajarkan, bahwa rekanku ini hidup dalam ketenangan diriku. Bersemayam pada diriku yang tenang, mengenggam diriku yang teduh. aku pun mengerti dan berjanji akan selalu jadi tempat tinggal yang sangat nyaman bagi rekanku ini. Dan aku pun memanggil rekanku ini dengan panggilan ide, agar aku tak kesusahan saat bercanda dengannya.

“apa kalian sudah mendapatkan rekan kalian sendiri? Jika sudah. Jagalah rekanmu itu, lindungi ia dengan segala ketenangan yang kalian miliki. Kembangkanlah dia, karena jika tidak. Ia akan menerkam mu tanpa ampun sampai kalian dibuat mati perlahan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar