Jumat, 03 Februari 2012

senyum mu menjamu hidupku



Terbuat dari apa senyummu
Hingga kau mampu melampaui sedihku dan menggantinya dengan bahagiaku

Apakah kau terlahir dari Matahari?
Atau diutus bulan?
Sekutu bintangkah?

Namun aku tersadar, kau melebihi itu semua
Kau terlahir dari seorang ibu yang tulus, yang menyulam senyum indahmu. Hingga kau berubah menjadi malaikat kecil yang ditunggu semua orang
Kau pun di didik oleh Ayahmu dengan pengertian, ketegasan dan kesabaran. Hingga kau berubah menjadi makhluk perempuan terbaik bagi hatiku dan hidupku

Aku sangat bersyukur untuk mencintaimu dan menanamkan perasaanku di kebun hatimu

Yang aku Tahu, aku hanya ingin bersamamu, sampai tidak ada waktu yang menjedai kita.

Cintaku tak pernah memeluk umur, Ia menjaga kehidupanmu dan segala yang kau punya, karena kau sendiri yang telah menghidupi cintaku.

Aku mencintaimu tanpa tapi dan tetapi, mencintaimu secara ikhlas.
Kelak kau sendiri yang akan merasakannya.

Terima kasih senyumku, kalau tidak ada itu, entah, dari apa lagi aku harus bahagia.

"Sajak ini saya persembahkan, untuk perempuanku yg kupilih menjadi bagian dari kehidupanku juga kematianku. Sajak ini terinspirasi dari satu senyumnya, senyum ketika ia bisa tertawa lepas, tersenyum bebas, saat ia bahagia. Karena senyumannya adalah senyumanku"

Maaf sedikit Meracau

Tengah malam ini aku sendiri,tanpa tahu kabarmu
Meskipun aku yakin, kamu akan baik-baik saja, namun kamu tahu, selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang sangat memenuhi pikiranku dan membuatku sulit tidur, semoga kamu mengizinkan aku untuk bertanya tentang beberapa hal yg aku ingin sampaikan.

"Sudahkah kamu minum obatmu pagi tadi atau pagi pagi kemarin?"
"Makanmu teratur kan?" "jangan begadang terus, porsi istirahat dengan kesibukanmu harus berimbang"
"bagaimana cuaca disana? Aku takut kamu kedinginan dan masuk angin, sebab disana tidak ada yg bisa membalurimu"
"Tidurmu nyaman kan?"
"Hey, Did you miss me? i don't know, im so missing you :( can you feel it? i can't sleep for almost three days, because i hate to see you in my dream. i want to see you and hugging you in our real life"
"i just want to say, your'e so beautiful and look great with your eyeglasses and maria bellen's hair"

i'm really miss you, how i miss you so, i'm never feel before. DAMNNNNN!!

I love you, Mey, i want to meet you, Dear.
Take care there, I know you will be the Greatest in my life, and i'm so.

M

rindu, sesal, khawatir, juga gundah kali ini bertamu bersamaan. Tidak sopan, memang. Namun aku menganggap mereka sebagai teman dikala kesepian. iya, kesepian.

Beberapa hari yang lalu, aku dan perempuanku terjerembab kedalam sebuah kondisi, dimana aku ingin dipahami dan dia pun begitu, hingga kami tidak saling memberi, yang menyebabkan kami bertengkar dengan keadaan dan waktu yg benar-benar kurang mendukung. Tidak mendukung karena perempuanku sedang mengalami banyak beban mengenai pekerjaan nya dan kuliahnya, dan goblognya aku tidak sampai memikirkan itu.

Mungkin masalahnya sangat sederhana. Yaitu, ketika dia mention teman pria nya dan aku pun sangat cemburu melihatnya. Jujur saja, aku cemburu, aku tidak mau munafik. Namun aku juga sadar, bahwa kecemburuanku dan kemarahanku waktu itu kurang tepat dalam hal penyampaian nya atau bisa dibilang tidak tahu waktu, karena ia sedang sibuk-sibuknya menyiapkan untuk event dari perusahaannya. Hingga kami pun terlibat dalam sebuah percakapan melalui telepon dan dia pun berbicara jika aku jangan dulu menghubunginya untuk sementara waktu. Dan seketika itu pula, Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, meskipun pada akhirnya dapat aku tutupi dengan ketenanganku. Namun mendengarnya bicara seperti itu, aku jadi seperti manusia yang paling salah, aku jadi manusia yang paling tidak bisa memahami. Rasanya usahaku dari kemarin untuk memahami situasi sama sekali tidak berguna, gara-gara kesalahan semacam ini. Tidak bohong, aku pun sangat menyesalinya, dan aku pun mencoba bertanggung jawab dengan menyetujui perintahnya untuk tidak menghubunginya sementara.
****************************************
3 hari sudah, komunikasi kami sedikit pudar, biasanya aku selalu cinta ketika harus mengucapkan kalimat selamat pagi kepadanya, kali ini aku ragu untuk itu, aku merasa kalo dia tidak dalam posisi yg sama sepertiku.

Hari ini dia pun harus bekerja sibuk, untuk mempersiapkan event nya besok hari.
Dan aku pun tiba-tiba dihubungi oleh salah seorang teman, untuk meeting dengan para pengurus acara musik yg akan kami jalani.
Aku pun pergi meeting dengan pikiran yang sama sekali tidak enak, hati yang sangat kacau, dan gairah pun tidak ada. Entah kenapa, aku hanya menyesali perbuatanku kemarin itu. Dan aku pun bingung, kenapa perempuanku mengambil keputusan secepat itu, tapi tidak apa-apa, aku berhak mendapatkan ini, agar aku dapat terus belajar bagaimana menyikapi suatu masalah, dan memahami posisi perempuanku.

Saat ini aku hanya menunggu, dan sebentar-sebenttar menghubungi dirinya.
Namun 3 hari ini, aku sering tidak bisa tidur, entah kenapa.
selalu membayangkan dirinya saja, aku rindu.

Rabu, 28 Desember 2011

Hanya Menyiapkan Kejutan

Hari ini tepat tanggal 5 Agustus. Tepatnya pukul 07.22. Suasana ruangan kantor selalu tampak mempesona, tirai-tirai jendela sengaja dibuka sebagai tanda untuk mempersilahkan sinar matahari ikut bekerja, layar monitor komputer sudah tidak sabar untuk segera digunakan, telepon-telepon pada setiap meja belum saling bersahutan. Lantai lantai keramik kantor, terlihat bersih menyerupai cermin, sebagai tanda untuk siap merefleksikan segala bentuk aktivitas diatasnya. Lalu Terdengar sayup sayup percakapan para penghuni kantor dari luar ruangan yang datang hampir bersama sama. Lalu Satu persatu, para penghuni kantor mulai memasuki ruangan yang mempesona itu. Para penghuni kantor yang hanya berjumlah 4 orang. Ya, hanya 4 orang. Pak Sam, Mas Bagas, Mba Catur, dan Tarmin. Namun meskipun hanya dengan 4 orang, mereka dapat bekerja layaknya 8 orang. Pak Sam, pria yang tampil percaya diri dengan ubannya adalah pemilik perusahaan sekaligus kantornya, dan melingkup sebagai manajer. Sedangkan pria berkemeja polos dan berambut keriting itu adalah Mas Bagas, seorang desainer grafis melingkupi produksi nya Kantor ini. Satu satunya perempuan yang ada di kantor ini ialah Mba Catur, perempuan bertubuh agak gemuk namun memiliki sorotan mata yang dapat melumerkan pria yang segarang apapun ini adalah sebagai sekertaris, meliputi marketing dan kepegawaian. Dan yang terakhir adalah Tarmin, pria yang setiap hari tinggal di suatu ruangan menyerupai kamar, yang berada di lorong dekat pintu keluar. Tarmin merupakan seorang pria muda berumur 23 tahun yang ditugasi untuk membantu Pak Sam, Mas Bagas dan Mba Catur untuk membuat pekerjaan mereka menjadi lancar. Terkadang Tarmin membuatkan tiga cangkir kopi untuk mereka, atau kadang, membuatkan mie kuah untuk Mba Catur, atau bahkan menemani Mas Bagas merokok di luar kantor pada sela sela makan siang sampai menjadi pengawal pribadi Pak Sam dalam urusan urusannya. Bisa dibilang Tarmin ini adalah orang yang cukup berjasa bagi ketiga orang itu, karena tidak jarang mereka dengan gampangnya memanggil Tarmin yang sedang menyapu, mengelap kaca, atau bahkan sedang bersantai hanya untuk menyuruh Tarmin menyeduhkan kopi atau memasak mie instan. Namun raga pria bertubuh kurus dan berkulit putih itu tidak pernah sekalipun menerjemahkan bentuk keluhan.


Kantor ini adalah kantor yang bergerak di dunia periklanan yang baru berdiri sekitar 2 tahun yang lalu. Maka dari itu ruangan yang didesain pun tidak terlalu luas, yang penting dapat memberikan kenyamanan dan kebersamaan, tanpa harus mengubah karyawannya menjadi seorang penjilat antara satu dengan lainnya. Dan pada tanggal 5 ini adalah waktunya para penghuni mendapatkan hasil dari keringatnya sendiri yang ditampung oleh perusahaannya. Sedikit jenaka, karena pada saat pembagian Gaji tersebut terlihat lebih seperti pembagian uang jajan yang dibagikan dari tangan Pak Sam untuk karyawan lainnya. Seolah Pak Sam itu adalah seorang kakek yang membagikan uang jajan kepada cucu-cucu nya. Semua Karyawan tampak senang. Tidak terkecuali Tarmin. Lelaki muda berusia 23 tahun itu terlihat berseri-seri, raut wajahnya seperti menerjemahkan sebuah kegembiraan yang sangat berarti, binar matanya juga tampak jelas bercahaya, seakan-akan setiap tanggal 5 itu merupakan kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya. Tarmin tampak tersenyum lebar, entah mengapa senyum setiap tanggal 5 dan setiap tanggal 29 terkadang berbeda, jauh berbeda. Sapaan dari masing masing karyawan, menimbulkan resonansi yang sangat enak didengar di ruangan kantor itu. Sekali lagi, “hari ini adalah waktunya pembagian uang jajan dari Pak Sam”. Kira-kira seperti itulah ungkapan canda yang dilontarkan oleh mereka.


2 tahun yang sudah mereka lalui, membuat mereka saling mengenal karakteristik satu sama lainnya. Dan bisa saja menimbulkan ketertarikan yang lebih antar karyawan lainnya. Dalam hal ini adalah Tarmin.


Sudah lama Tarmin menyimpan perasaan terhadap Mba Catur, terlihat dari bentuk perhatiannya selama 2 tahun terhadap Mba Catur, seperti selera mie instan Mba Catur yang tidak terlalu matang, atau kopi hitam yang tidak terlalu pekat, sampai kepada takaran gula yang pas untuk kopinya. Pernah juga, suatu kali, jaket Mba Catur tertinggal di dalam Kantor, dan lusa nya, jaket tersebut sudah dalam keadaan yang rapih dan bersih. Dan Mba Catur menatap sambil berbicara kepada Tarmin. “Tarmin, lain kali kalo ada barang apapun yang tertinggal di Kantor, jangan kau cuci atau rapihkan. Bisa-bisa lain waktu saya akan pura-pura menaruh dan meninggalkan cucian saya di dalam kantor ini, agar kamu cuci, hehehe”. Tarmin pun terlihat malu sekaligus takjub terhipnotis tatapan mata Mba Catur yang sangat lembut melebihi kelembutan jaket yang pernah dicuci oleh Tarmin. “mbaik mba, sengaja ditinggal pun akan saya cuci dan rapihkan”. Jawab Tarmin sambil tersipu. Mba Catur pun menimpali nya “hahaha Tarmin.. Tarmin, aku cuman becanda loh, jangan sampai aku memiliki inisiatif untuk membuatnya menjadi serius”. Dan seketika itu, tawa mereka berdua terdengar sayup di dalam ruangan kantor juga di antara Mas Bagas dan Pak Sam. Mungkin tidak hanya itu saja yang berhasil membuat hati Tarmin menjadi lebih merekah. Pernah suatu hari, ketika terjadi hujan lebat, Tarmin mengantarkan Mba Catur pulang sampai Mba Catur mendapatkan angkutan umum menuju rumahnya, karena Mba Catur kebetulan sedang lembur dan Mas Bagas serta Pak Sam lebih dahulu pulang. Dan juga Mba Catur tidak membawa payung, alhasil Tarmin mengantarkan Mba Catur dengan menggunakan payung kantor yang cukup besar untuk menaungi 2 orang di bawahnya sampai menuju seberang, tempat Mba Catur memberhentikan angkutan umum. “Mba, payungnya Mba bawa saja sampai rumah, takut-takut nanti ketika turun dari angkot, hujannya masih belum berhenti” Tarmin hampir berteriak, karena suara hujan lebat yang cukup berisik. “Lalu kamu bagaimana Tarmin, kamu kan butuh payungnya untuk sampai kantor di seberang, kalo payungnya aku bawa, bisa-bisa kamu basah kuyup ketika sampai seberang sana”. Mba Catur pun berusaha mengimbangi suara Tarmin tadi. “tidak apa-apa kok Mba, jarak saya dari sini ke kantor hanya dipisah oleh jalan raya saja kan? Kalo Mba kan beda, Mba mesti mengendarai angkutan umum dulu sebelum sampai di rumah, belum lagi ketika turun dari angkutan umum, takutnya di daerah tempat tinggal Mba, hujannya masih blum berhenti, jadi bawa saja dulu Mba payungnya”. Tarmin kembali berteriak dengan badan yang sedikit kebasahan. “Baik kalo begitu, terima kasih Tarmin, sesampainya di Kantor, kamu buat saja mie instan buatanmu sendiri, dijamin nikmat, hehehe”. Mba Catur terlihat berbicara sambil dengan wajah yang cukup basah akibat hujan yang cukup lebat. Tarmin cukup menganggukan kepalanya sambil tersipu malu. Lalu dia memberhentikan angkutan umum untuk Mba Catur. “terima kasih Tarmin sudah mau mengantar dan meminjamkan payungnya” terlihat paras, suara dan harum parfum Mba Catur segera berlalu mengikuti angkutan umum yang dinaikinya. Dan Tarmin terlihat bahagia, terbukti, ketika Tarmin tersenyum bahagia walaupun sambil menyeberang jalanan yang diguyur oleh hujan lebat. Dan dalam rutinitas sehari-hari nya pun, Tarmin tampak lebih memperhatikan Mba Catur dengan bertanya “Mba Catur, Mba mau makan apa siang ini? Biar saya belikan”. Atau “Mba sudah sarapan? Kalau belum, saya bisa buatkan Mba telur mata sapi. Terlalu sering mie instan, itu tidak baik Mba”. Mas Bagas juga Pak Sam lambat laun mulai menyadari hal ini, dan mereka memilih untuk tidak terlalu banyak berkomentar.


Beragam catatan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa sekecil apapun yang terdapat pada rutinitas mereka, itu sangat bermakna bagi Tarmin, bahkan pikiran radikalnya dengan lancang menyebutkan bahwa, lebih baik dia basah kuyup kehujanan, asal bisa berdekatan dengan Mba Catur dalam satu payung. Namun, sekali lagi Tarmin tahu diri, tentang keberadaan dirinya dan perbedaan umur keduanya yang berbeda 4 tahun. Tarmin 23 dan mba Catur 27.


Dalam setiap harinya, rutinitas kantor tersebut selalu menyenangkan. Sifat Mas Bagas yang humoris dipadu dengan Pak Sam yang menganggap karyawan itu sebagai sahabatnya, membuat keakraban pun semakin erat dari waktu ke waktu sampai gelak tawa di ruangan itu menjadi lebih sering terjadi, bahkan seringkali mereka ber empat dapat menghabisakn waktu makan siang mereka hanya dengan tertawa sampai terbahak-bahak. Pak Sam yang dermawan pun, selalu menjadi pusat kesenangan para karyawannya. Ketika perusahaannya memenangkan tender untuk iklan produk, Pak Sam tidak segan–segan mengajak para karyawannya untuk makan di luar. Namun diantara gelak tawa yang memenuhi ruangan itu, terkadang tersembunyi sebuah kesedihan yang ikut bersembunyi di sela sela jam dinding, di sela pembatas buku, atau menyelinap masuk ke dalam lemari arsip dan yang paling parah, membuat Tarmin sedikit sesak. Ya, Tarmin tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang telah tumbuh kurang lebih selama 2 Tahun, terkadang ia butuh mengungkapkan segalanya, namun ia bingung campur takut, ia takut kalau-kalau Mba Catur malah menjauhi dirinya ketika Mba Catur tahu bahwa ia menautkan perasaan padanya. Dan Tarmin tidak berniat untuk menceritakan hal ini kepada Mas Bagas apalagi kepada Pak Sam.


Tanggal 19 Agustus. Ketika jam makan siang. Mas Bagas mengajak Tarmin untuk menemaninya merokok di luar kantor. Dan tetiba, Mas Bagas melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup membuat Tarmin terkaget-kaget. “Min, besok itu ulang tahunnya Catur loh, sudah ada rencana, untuk memberikan dia hadiah, Min?” sambil tangan Mas Bagas meraih cangkir kopi di meja istirahatnya. “Tidak Mas, saya masih malu Mas, Mas tau sendiri kan, dari tahun ke tahun saya tidak pernah memberikan Mba Catur hadiah”. Timpal tarmin. Bagas menurunkan cangkir kopinya dan kembali menyalakan batang rokok ke 2 nya, sambil berusaha memberikan pengertian kepada Tarmin. “Justru ini kesempatan kamu Min, kapan lagi kamu bisa nyoba ngasih hadiah atau kejutan buat Catur? Belum tentu tahun depan itu suasana nya sama kaya gini. Gini lo Min, sebagai seorang pria, aku ngerti kok, apa yang kamu rasakan. Namun tidak ada salahnya kita nyoba Min, setidaknya kita mencoba mengungkapkan perasaan kita dalam bentuk lain, dalam hal kejutan atau hadiah”. Mas Bagas terlihat lebih meyakinkan rekan kerjanya itu agar Tarmin, mau mengiyakan saran darinya. “baiklah Mas Bagas, saya akan mencobanya besok”. Terlihat simpul senyum kecil yang muncul dari bibir Tarmin sebagai bentuk bahwa ia setuju akan saran dari Mas Bagas. Mas Bagas pun menepuk bahu Tarmin, sebagai tanda bahwa Mas Bagas ikut mendukung rekannya itu. Tarmin pun memikirkan, kira-kira kejutan apa yang akan ia berikan untuk memaknai hari lahir nya Mba Catur, agar secara spontan, Mba Catur sendiri menjadi terkesan atasnya.


Tanggal 20 Agustus. Cuaca 07.22 ini cukup sejuk, jendelanya dibiarkan terbuka, agar semilir angin dapat mengisi kursi-kursi yang masih kosong belum terisi, disambut dengan sinar matahari yang membalut hangat, sebagai penyeimbang sejuknya udara pagi ini. Ruangan kantor itu masih terlihat sepi, namun sepertinya pandangan tersebut dilayangkan kepada meja Mba Catur yang sudah dihias menggunakan pita-pita merah muda yang diikat pada kaki-kaki kursi melewati kabel-kabel komputer sampai memunculkan simpul-simpul manis yang berada tepat di meja kerja Mba Catur, Cangkir kopi berwarna coklat muda yang merupakan warna kesukaan Mba Catur, dipadu dengan vas bunga yang berada tepat di ujung meja kerja nya. Tak lupa sepucuk surat yang dibungkus menggunakan amplop cokelat muda juga, tersimpan manis di depan monitor komputer Mba Catur. Dari dalam ruangan dekat pintu masuk yang masih terkunci, Tarmin tersenyum tersipu malu, menyaksikan pekerjaannya semalam, dalam menghias meja kerja Mba Catur dan menyiapkan kado serta menulis surat untuk Mba Catur.
Isi surat itu berbunyi :
Selamat Pagi Mba Catur, Mba Catur sempat sarapankah tadi? Kalau tidak sempat, saya akan buatkan telur mata sapi kesukaan Mba, terlalu sering makan mie instan itu kurang baik Mba. Saya sengaja buatkan Mba Catur teh manis panas bukan kopi hitam encer seperti biasanya, sengaja Mba, biar Mba ngadepin kerjaan pagi ini dengan rileks dan pikiran yang tenang. Waduh, saya hampir lupa mengucapkan Mba, hari ini Mba mengulang tanggal pada Tahun yang berbeda, umur Mba bertambah menjadi 28 tahun, saya tidak ingin mengucapkan selamat, namun saya ingin mendoakan, selalu mendoakan agar apa yang Mba inginkan dapat terwujud, amin. Mohon maaf Mba, kali ini saya berani lancang, saya lancang karena saya ingin mengutarakan suatu hal kepada Mba Catur, maaf kalo tidak berkenan. Selama 2 tahun ini, saya hidup jauh dari dunia luar Mba. Saya tinggal di dalam ruangan ini, bangun di ruangan ini, tidur juga di ruangan ini, namun saya tidak ingin hati saya, saya buat bisu di ruangan ini. Saya ingin, hati saya berbicara, menerjemahkan segala hal yang ia temui, yang ia rasakan, atas dasar semua rutinitas yang saya jalankan. Hati saya berbicara bahwa ternyata saya dan hati saya telah jatuh dan tenggelam kedalam diri Mba Catur seutuhnya. Iya betul Mba, saya mencintai Mba Catur sedari kita mulai menjalankan rutinitas bersama-sama dalam kantor ini. Hanya saya berani mengungkapkannya sekarang. Namun Mba, perlu diingat, bahwa Cintaku ini adalah cinta yang bebas. Cintaku ini adalah cinta yang tidak ingin merangkul. Cintaku ini hanya kejutan mba, dan biarlah cintaku ini tetap dalam kejutannya, dari waktu ke waktu. Agar Mba Catur dapat merasakan setiap kejutan dari perasaanku, setiap waktu. Berbahagialah Mba, dengan siapapun Mba bertemu. Hanya jangan denganku, karena aku hanya bisa memberikan kejutan saja, bukan memberikan keutuhan. Mba tak perlu berkomentar, tak perlu menjawab, cukup tatap mata saya dan kita menjalankan aktivitas serta rutinitas seperti sebelumnya, tanpa harus dibebani oleh perasaan. Biarkan perasaan Mba jadi kejutan untuk saya. Terima kasih Mba, telah mengizinkan saya untuk berterus-terang. Sekali lagi terima kasih mba”

Jumat, 09 Desember 2011

Monolog sebelum tidur

Lekas kau pakai selimutmu, biar kau terhindar dari kedinginan yang menusuk rongga tubuhmu.

Perlu aku nyanyikan lagu pengantar tidur?
Ataukah dongeng yang ku sisipkan diantara kantukmu?

Sebentar, aku matikan lampu dulu ya.

Bagaimana hari ini? Apakah kau lelah berkencan seharian dengan rutinitasmu?
Baik, aku baluri kakimu, tanganmu, perutmu, punggungmu hingga kepalamu dengan kayu putih itu ya? Agar kau merasa nyaman dengan aroma nya.

Bisa kau letakkan kepalamu di antara dada dan bahuku, hingga nafasku bisa kau rasa.
Lalu, coba kau sandarkan tubuhmu hingga menyentuh tubuhku.
Dan, simpan tanganmu melingkar di pinggangku, agar aku bisa segera memeluk tubuhmu.
Sudah?
Sekarang terpejamlah, coba rasakan kelelahan itu kita bagi sama rata.

Berdoalah. kelak malam malam berikutnya kita terus diberi kesempatan seperti ini.

selamat tidur

Kamis, 08 Desember 2011

Batas!





Apa yang kau ketahui mengenai batas? Mungkin sebuah penghalang bagimu untuk menyentuh sesuatu? Atau sesuatu yang siap kau dobrak agar batas itu tak kau dapatkan? Atau sesuatu yang mengganggu langkahmu? Sesuatu yang sama sekali menahanmu? Sesuatu yang membuatmu terdiam ketika kau sampai di ujungnya, di ujung batas?

Apakah kau pernah melewati sebuah batas? Kau pasti berasumsi bahwa kau sering melewati batas tersebut. Namun menurutku kau hanya memberi jarak kepada batas tersebut, bukan melewatinya. Kau fikir kau melewatinya, padahal kau tidak tahu bahwa batas tersebut telah menunggu mu dengan sunyi di ujung sana. Hingga kau terus mempercepat langkahmu untuk (kembali) melewati batas tersebut. Lalu Batas itu kembali mendahului langkahmu dan berdiri di ujung sana hingga kau kembali berfikir bahwa kau telah melewati batas itu, padahal Batas itu tidak pernah berubah, ia sama dengan apa yang coba kau lewati tadi. Terus begitu, hingga kau fikir kau adalah makhluk yang tidak memiliki batas.

Namun bagiku Batas itu adalah makna. Ia menjelma dari keterbatasannya hingga membuat segalanya menjadi tak terbatas. Batas batas itu perantara, perantara antara keterbatasannya dengan ketidakterbatasanNya. Terkadang Batas itu ada untuk membatasi sesuatu agar segala yang dibatasi bisa membuat segala bentuk diluar batas kita menjadi lebih berbatas. Batas merupakan sebuah ruang, dimana kita bisa memaklumi diri sebagai makhluk ciptaan yang berbatas. Sebuah ruang yang kita gunakan untuk merenungi keterbatasan kita. Ia selalu berkomunikasi dengan aku atau kau dengan cara yang berbeda. Sebuah batas dimana kita bisa berkomunikasi dengan keterbatasan tersebut, yang menghasilkan skema rindu yang bermakna.

Aku tak pernah untuk mencoba melewati Batas itu, aku hanya bermain dengan batas tersebut, sampai aku tak pernah bosan, sampai aku memahami batasku dan batasku memahami aku. Setiap aku berlari mengejar batasku, Ia hanya tersenyum di ujung sana sambil menungguku. Ketika aku sampai pada batas itu, aku pun menyentuhNya dan ia kembali berlari agar ia kembali ku kejar. Ia ingin dikejar, namun ia tak bisa untuk dilewati. Mau bagaimanapun, tak.

Lalu Batas itu
Berubah menjadi Bata(s)
yang membuatku TerBata(s) bata(s)
ketika aku mengetahui
Keterbata(s)anku
seperti Aku dan Kamu yang memiliki Batas

Namun aku selalu Mencintaimu Tanpa Batas!

Rabu, 07 Desember 2011

KUN !





Ini tentang apa yang dikehendaki dan apa yang tidak dikehendaki. Ketika kita hidup di bawah langit, pertanyaan pertanyaan selalu kita lontarkan terhadap pencipta kita, mengenai ketikadpuasan kita terhadap kehendak yang sudah di "KUN" kan nya. Kita selalu merasa bahwa "KUN" yang kita inginkan tidak selalu di "FAYAKUN" kan oleh Nya. Kita selalu mempunyai pandangan sendiri mengenai "KUN" yang terbaik bagi kita sendiri, seolah - olah kita tidak puas atau mungkin tidak pernah puas mengenai apa yang sudah di"FAYAKUN" kan Nya. Padahal jika kita ingat, pemahaman kita mengenai "KUN" ini adalah sangat terbatas jika dibandingkan dengan pencipta kita, yang mampu menjadikan "KUN" tersebut sampai kepada "FAYAKUN".

Ketetapan "FAYAKUN" hanya dimiliki oleh Penguasa kita. Kalaupun kita bisa mem"FAYAKUNKAN" sesuatu, itu hanyalah secuil dari ketentuan ketentuan yang sudah terbentuk, jauh sebelum kita menciptakan ketentuan tersebut. Namun kita bisa mewujudkan peran kita sebagai seorang manusia yang tak pernah lelah dalam ruang lingkup "KUN" nya agar Dia senantiasa mewujudkan "FAYAKUN" yang telah ia tetapkan untuk kita.

"FAYAKUN" itu adalah sebuah kebesaranNya dari kebesaran kebesaranNya yg tak terhingga. BagiNya "FAYAKUN" tersebut mungkin semudah membalikan telapak tangan, lain halnya dengan kita yang hanya mereposisikan "FAYAKUN" dari sudut pandang kita sebagai makhluk ciptaannya saja, dengan pemahaman yang sangat terbatas.

Jika kita analogikan. "KUN" itu adalah hanya milik manusia, dan "KUN FAYAKUN" adalah milik Tuhan. Kedua hal tersebut selalu berjalan beriringan seirama.

Tugas kita hanya berjalan dalam "KUN" yang kita miliki.