
Apa yang kau ketahui mengenai batas? Mungkin sebuah penghalang bagimu untuk menyentuh sesuatu? Atau sesuatu yang siap kau dobrak agar batas itu tak kau dapatkan? Atau sesuatu yang mengganggu langkahmu? Sesuatu yang sama sekali menahanmu? Sesuatu yang membuatmu terdiam ketika kau sampai di ujungnya, di ujung batas?
Apakah kau pernah melewati sebuah batas? Kau pasti berasumsi bahwa kau sering melewati batas tersebut. Namun menurutku kau hanya memberi jarak kepada batas tersebut, bukan melewatinya. Kau fikir kau melewatinya, padahal kau tidak tahu bahwa batas tersebut telah menunggu mu dengan sunyi di ujung sana. Hingga kau terus mempercepat langkahmu untuk (kembali) melewati batas tersebut. Lalu Batas itu kembali mendahului langkahmu dan berdiri di ujung sana hingga kau kembali berfikir bahwa kau telah melewati batas itu, padahal Batas itu tidak pernah berubah, ia sama dengan apa yang coba kau lewati tadi. Terus begitu, hingga kau fikir kau adalah makhluk yang tidak memiliki batas.
Namun bagiku Batas itu adalah makna. Ia menjelma dari keterbatasannya hingga membuat segalanya menjadi tak terbatas. Batas batas itu perantara, perantara antara keterbatasannya dengan ketidakterbatasanNya. Terkadang Batas itu ada untuk membatasi sesuatu agar segala yang dibatasi bisa membuat segala bentuk diluar batas kita menjadi lebih berbatas. Batas merupakan sebuah ruang, dimana kita bisa memaklumi diri sebagai makhluk ciptaan yang berbatas. Sebuah ruang yang kita gunakan untuk merenungi keterbatasan kita. Ia selalu berkomunikasi dengan aku atau kau dengan cara yang berbeda. Sebuah batas dimana kita bisa berkomunikasi dengan keterbatasan tersebut, yang menghasilkan skema rindu yang bermakna.
Aku tak pernah untuk mencoba melewati Batas itu, aku hanya bermain dengan batas tersebut, sampai aku tak pernah bosan, sampai aku memahami batasku dan batasku memahami aku. Setiap aku berlari mengejar batasku, Ia hanya tersenyum di ujung sana sambil menungguku. Ketika aku sampai pada batas itu, aku pun menyentuhNya dan ia kembali berlari agar ia kembali ku kejar. Ia ingin dikejar, namun ia tak bisa untuk dilewati. Mau bagaimanapun, tak.
Lalu Batas itu
Berubah menjadi Bata(s)
yang membuatku TerBata(s) bata(s)
ketika aku mengetahui
Keterbata(s)anku
seperti Aku dan Kamu yang memiliki Batas
Namun aku selalu Mencintaimu Tanpa Batas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar