Ada apa di depan sana? Lorongnya begitu panjang untuk dilalui, tanpa lelah, tanpa serapah. Aku mencoba menggugah sumpah, namun tak ku dapat upah. Hanya masih lorong panjang yang gelap. Sampai dimana kita tadi? Aku pun tidak tahu! Yang aku tahu hanya merokok dan meminum kopi. Kita semua bertaruh kepada masa depan. Masa yang sebenarnya merupakan kolase kolase dari bingkai bingkai hari. Bingkai bingkai hari yang aku Tanyai sepanjang hari. Lalu aku bertanya pada Horatius, apa yang bisa kita peroleh pada esok hari? Lalu Horatius pun berkata, esok hari adalah waktu dimana kita pernah bersemayam pada tenggat waktu yg masih sama. Lalu aku berhenti menanyai tentang esok hari. Hingga aku berhasil menemui kamu seorang diri, sedang berdiri di satu sisi. Aku segera bergegas untuk memiliki, lalu menjalani, mungkin sampai mati.
Lalu aku mengajakmu menelusuri lorong gelap itu. Hingga kita berhasil lewati berdua. Sampai pada satu pintu, pintu keluar yang menyampaikan kita pada suatu padang rumput. Indah, asri dan sunyi. Mungkin lebih dari cukup untuk kita berdua. Kita lekas membuat tenda. Dari ilalang yang kita dapatkan di sekitar. Hingga tenda selesai dan senja segera manghampiri. Aku lalu bermain layang layang, dan kamu bermain gelembung sabun. Disaksikan oleh langit jingga yang menertawai. Sampai senja berpamitan pada kita. Segera kuturunkan layang-layang, dan kau habiskan gelembung sabun itu untuk kau tiup ke seluruh penjuru. Semua pecah terkena langit senja yang sebentar lagi akan habis. Ia pun terkikih dan melambai tangan pada kita, yang hanya berdua di sebuah padang rumput. Menikmati walaupun baru sekali.
Malam menghampiri, aku segera mencari ranting di sekitar ilalang untuk dijadikan api kecil yang hanya menghangatkan kita berdua. Aku diam diam pergi sebentar untuk mencari beberapa helai daun daunan yang nantinya dijadikan selimut untukmu yg sedikit menggigil. Ku atur sedemikian rupa, agar tidak ada rongga yang terbuka, tidak ada rongga hingga udara sebuihpun tak bisa merasuk tubuhmu. Dan kuhempaskan selimut daun itu sampai menjangkau seluruh tubuhmu. Lalu aku pun ikut tidur dengan memeluk dirimu. Lalu kita terhempas ke dalam alam bawah sadar dimana raga mu dan raga ku saling bersemayam dalam ketenangan.
Lalu kita terbangun di pagi hari. Dibangunkan oleh angin yg meniupkan ilalang menuju suatu irama, hingga mereka menimbulkan irama desiran sunyi yang beresonansi. Seraya angin pagi segar ikut berkenalan dengan menyentuh kulit kulit kami yg masih utuh. Kami pun saling menatap, sontak tersenyum. Hingga kami tahu apa itu bahagia. Kami keluar tenda. Mengucpkan selamat pagi kepada sekitar. Dan dibalas kali ini tidak hanya oleh desir ilalang dan angin yg menyentuh, tapi datang sang matahari dan awan putih yang masih malu malu untuk berucap. Kami tersenyum, lalu matahari mulai berdiskusi dengan kami melalui hangat yg ia berikan. Giliran awan yang juga memperkenalkan kekasihnya yg bernama langit. Sungguh sebuah simbiosis yang benar benar sempurna. Kami berdua berpegang tangan, lalu mencari barangkali ada telaga yang akan kami temui. Lalu berhenti lah kamu pada sebuah telaga yang jernih. Dia merefleksikan semua kehidupan di atasnya. Membiaskan semua bentuk bayangan yang mendekati nya. Hingga kami tertawa sendiri akan cermin alami yang kami temui. Kami berkenalan dengan sang telaga, kami menurunkan tangan kami bersama sama untuk menjangkau permukaan telaga. Segera segar yang dirasa. Kami pun menciprat cipratkan air telaga itu ke segala arah, berharap agar angin, ilalang, awan, langit dan matahari dapat merasakan kenikmatan ini. Kami tertawa riang. Mereka juga.
Sampai menuju siang, kali ini giliran kami bermain bersama telaga. Karena matahari sedang bermain bersama ilalang, ia menurunkan panasnya untuk fotosintesis ilalang. Kami bermain bergiliran, sekali kami melompat bersama angin untuk selanjutnya berendam bersama telaga, atau sekedar berlari dan berteduh bersama ilalang. Kali ini tidak ada layang layang, tidak juga gelembung sabun. Kami cukup puas berada disini bersama sahabat sahabat terbaik kami, abadi dalam kesederhanaan yang sangat mewah.
Sampai senja, petang, malam dan kembali lagi menjadi pagi. Kami saling menemani dan saling menjaga sampai akhir hayat kami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar