
Ini tentang apa yang dikehendaki dan apa yang tidak dikehendaki. Ketika kita hidup di bawah langit, pertanyaan pertanyaan selalu kita lontarkan terhadap pencipta kita, mengenai ketikadpuasan kita terhadap kehendak yang sudah di "KUN" kan nya. Kita selalu merasa bahwa "KUN" yang kita inginkan tidak selalu di "FAYAKUN" kan oleh Nya. Kita selalu mempunyai pandangan sendiri mengenai "KUN" yang terbaik bagi kita sendiri, seolah - olah kita tidak puas atau mungkin tidak pernah puas mengenai apa yang sudah di"FAYAKUN" kan Nya. Padahal jika kita ingat, pemahaman kita mengenai "KUN" ini adalah sangat terbatas jika dibandingkan dengan pencipta kita, yang mampu menjadikan "KUN" tersebut sampai kepada "FAYAKUN".
Ketetapan "FAYAKUN" hanya dimiliki oleh Penguasa kita. Kalaupun kita bisa mem"FAYAKUNKAN" sesuatu, itu hanyalah secuil dari ketentuan ketentuan yang sudah terbentuk, jauh sebelum kita menciptakan ketentuan tersebut. Namun kita bisa mewujudkan peran kita sebagai seorang manusia yang tak pernah lelah dalam ruang lingkup "KUN" nya agar Dia senantiasa mewujudkan "FAYAKUN" yang telah ia tetapkan untuk kita.
"FAYAKUN" itu adalah sebuah kebesaranNya dari kebesaran kebesaranNya yg tak terhingga. BagiNya "FAYAKUN" tersebut mungkin semudah membalikan telapak tangan, lain halnya dengan kita yang hanya mereposisikan "FAYAKUN" dari sudut pandang kita sebagai makhluk ciptaannya saja, dengan pemahaman yang sangat terbatas.
Jika kita analogikan. "KUN" itu adalah hanya milik manusia, dan "KUN FAYAKUN" adalah milik Tuhan. Kedua hal tersebut selalu berjalan beriringan seirama.
Tugas kita hanya berjalan dalam "KUN" yang kita miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar