Apa yang akan kalian persiapkan dalam menyambut senja? Sebuah gelas teh manis hangat, barangkali. Yang diminum diatas balkon yang menghadap ke sudut perkotaan? Atau malah mandi terlebih dahulu, agar bisa menyambut senja dengan sebentuk kesegaran? Atau kalian tengah berada di kantor, menyelesaikan lembur yang telah diamanatkan. Atau mungkin kalian termasuk kepada orang yang menyambut senja dengan berpulang dari rutinitasnya. Menikmatinya di perjalanan, bersama kemacetan, bersama petugas yang sedang mengatur lalu lintas. Terjun bersama sama kedalam sebuah alur perjalanan kalian menuju rumah. Atau kalian menyambutnya dengan berkumpul bersama keluarga di rumah? Sambil membicarakan hal yang ditemui dari pagi hingga siang. Atau seperti anak anak itu, yang menyambut senja dengan bermain layang layang di sekitar rumah. Ada yang bermain petak umpet. Ada juga yang lompat tali. Terbenam jauh menuju ketertawaan. Tersusun menjadi sebuah kebebasan yang tidak akan kalian temui jika sudah dewasa. Atau hanya sekedar tersenyum dan membuka jendela apartemen, membiarkan bias bias jingga nya masuk ke dalam ruanganmu. Atau kalian yang menghampiri pedagang baso yang tengah berdiri menunggu pembeli di ujung gang rumahmu?
Senja datang dengan segala ketertarikannya, menarik kita menuju sebuah ruang yang sangat dalam melebihi tengah malam. Cahaya nya jingga. Sebagai bentuk pembiasan dari sang matahari yang sekedar mengucapkan selamat datang kepada petang. Senja hadir bersama sebuah kehangatan, memeluk setiap pengikutnya dengan penuh asa. Senja menjelma menjadi sebuah harapan, harapan akan datangnya malam yg indah. Senja menjadi sebuah titik, dimana kita berpijak pada suatu masa yang tidak akan kita temui pada siang dan malam. Senja menjelma menjadi penawar kelelahan, membiarkan pengikutnya terlelap sebelum gelap. Senja mengalir tanpa sebuah getir, menyilahkan pengikutnya untuk bermain sepuasnya. Senja mengirimkan harum melebihi parfum. Dan membiarkan para pengikutnya menciumnya.
Aku disini menatap senja dari ruang kamar kostku yg sederhana, ku biarkan cahayanya masuk hingga menyentuh kasurku , membelai tiap jahitan yg ditemuinya. Lalu kutawarkan kopi kepadanya, agar ia bebas mencicipi. Namun ia hanya mencium aroma nya. Aku mulai bercakap dengannya, dan senja menanggapinya dengan simpul senyum yg merona jingga. Aku membelainya hingga aku tak bisa merasakkan apa. Mencoba memeluknya hingga kutemui senja merasuki sela sela pelukku. Kami selalu begitu dan terus begitu. Saling merindu satu sama lain.
Kamu adalah senjaku. Datang dengan segala bentuk keindahan. Yang kucintai dengan segenap ketulusan. Aku akan terus menemuimu senjaku.
Sampai senjaku mengirimkan hujan, aku tetap senantiasa menari nari dibawahya. Karena Aku tak akan meninggalkanmu senjaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar