Hari ini tepat tanggal 5 Agustus. Tepatnya pukul 07.22. Suasana ruangan kantor selalu tampak mempesona, tirai-tirai jendela sengaja dibuka sebagai tanda untuk mempersilahkan sinar matahari ikut bekerja, layar monitor komputer sudah tidak sabar untuk segera digunakan, telepon-telepon pada setiap meja belum saling bersahutan. Lantai lantai keramik kantor, terlihat bersih menyerupai cermin, sebagai tanda untuk siap merefleksikan segala bentuk aktivitas diatasnya. Lalu Terdengar sayup sayup percakapan para penghuni kantor dari luar ruangan yang datang hampir bersama sama. Lalu Satu persatu, para penghuni kantor mulai memasuki ruangan yang mempesona itu. Para penghuni kantor yang hanya berjumlah 4 orang. Ya, hanya 4 orang. Pak Sam, Mas Bagas, Mba Catur, dan Tarmin. Namun meskipun hanya dengan 4 orang, mereka dapat bekerja layaknya 8 orang. Pak Sam, pria yang tampil percaya diri dengan ubannya adalah pemilik perusahaan sekaligus kantornya, dan melingkup sebagai manajer. Sedangkan pria berkemeja polos dan berambut keriting itu adalah Mas Bagas, seorang desainer grafis melingkupi produksi nya Kantor ini. Satu satunya perempuan yang ada di kantor ini ialah Mba Catur, perempuan bertubuh agak gemuk namun memiliki sorotan mata yang dapat melumerkan pria yang segarang apapun ini adalah sebagai sekertaris, meliputi marketing dan kepegawaian. Dan yang terakhir adalah Tarmin, pria yang setiap hari tinggal di suatu ruangan menyerupai kamar, yang berada di lorong dekat pintu keluar. Tarmin merupakan seorang pria muda berumur 23 tahun yang ditugasi untuk membantu Pak Sam, Mas Bagas dan Mba Catur untuk membuat pekerjaan mereka menjadi lancar. Terkadang Tarmin membuatkan tiga cangkir kopi untuk mereka, atau kadang, membuatkan mie kuah untuk Mba Catur, atau bahkan menemani Mas Bagas merokok di luar kantor pada sela sela makan siang sampai menjadi pengawal pribadi Pak Sam dalam urusan urusannya. Bisa dibilang Tarmin ini adalah orang yang cukup berjasa bagi ketiga orang itu, karena tidak jarang mereka dengan gampangnya memanggil Tarmin yang sedang menyapu, mengelap kaca, atau bahkan sedang bersantai hanya untuk menyuruh Tarmin menyeduhkan kopi atau memasak mie instan. Namun raga pria bertubuh kurus dan berkulit putih itu tidak pernah sekalipun menerjemahkan bentuk keluhan.
Kantor ini adalah kantor yang bergerak di dunia periklanan yang baru berdiri sekitar 2 tahun yang lalu. Maka dari itu ruangan yang didesain pun tidak terlalu luas, yang penting dapat memberikan kenyamanan dan kebersamaan, tanpa harus mengubah karyawannya menjadi seorang penjilat antara satu dengan lainnya. Dan pada tanggal 5 ini adalah waktunya para penghuni mendapatkan hasil dari keringatnya sendiri yang ditampung oleh perusahaannya. Sedikit jenaka, karena pada saat pembagian Gaji tersebut terlihat lebih seperti pembagian uang jajan yang dibagikan dari tangan Pak Sam untuk karyawan lainnya. Seolah Pak Sam itu adalah seorang kakek yang membagikan uang jajan kepada cucu-cucu nya. Semua Karyawan tampak senang. Tidak terkecuali Tarmin. Lelaki muda berusia 23 tahun itu terlihat berseri-seri, raut wajahnya seperti menerjemahkan sebuah kegembiraan yang sangat berarti, binar matanya juga tampak jelas bercahaya, seakan-akan setiap tanggal 5 itu merupakan kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya. Tarmin tampak tersenyum lebar, entah mengapa senyum setiap tanggal 5 dan setiap tanggal 29 terkadang berbeda, jauh berbeda. Sapaan dari masing masing karyawan, menimbulkan resonansi yang sangat enak didengar di ruangan kantor itu. Sekali lagi, “hari ini adalah waktunya pembagian uang jajan dari Pak Sam”. Kira-kira seperti itulah ungkapan canda yang dilontarkan oleh mereka.
2 tahun yang sudah mereka lalui, membuat mereka saling mengenal karakteristik satu sama lainnya. Dan bisa saja menimbulkan ketertarikan yang lebih antar karyawan lainnya. Dalam hal ini adalah Tarmin.
Sudah lama Tarmin menyimpan perasaan terhadap Mba Catur, terlihat dari bentuk perhatiannya selama 2 tahun terhadap Mba Catur, seperti selera mie instan Mba Catur yang tidak terlalu matang, atau kopi hitam yang tidak terlalu pekat, sampai kepada takaran gula yang pas untuk kopinya. Pernah juga, suatu kali, jaket Mba Catur tertinggal di dalam Kantor, dan lusa nya, jaket tersebut sudah dalam keadaan yang rapih dan bersih. Dan Mba Catur menatap sambil berbicara kepada Tarmin. “Tarmin, lain kali kalo ada barang apapun yang tertinggal di Kantor, jangan kau cuci atau rapihkan. Bisa-bisa lain waktu saya akan pura-pura menaruh dan meninggalkan cucian saya di dalam kantor ini, agar kamu cuci, hehehe”. Tarmin pun terlihat malu sekaligus takjub terhipnotis tatapan mata Mba Catur yang sangat lembut melebihi kelembutan jaket yang pernah dicuci oleh Tarmin. “mbaik mba, sengaja ditinggal pun akan saya cuci dan rapihkan”. Jawab Tarmin sambil tersipu. Mba Catur pun menimpali nya “hahaha Tarmin.. Tarmin, aku cuman becanda loh, jangan sampai aku memiliki inisiatif untuk membuatnya menjadi serius”. Dan seketika itu, tawa mereka berdua terdengar sayup di dalam ruangan kantor juga di antara Mas Bagas dan Pak Sam. Mungkin tidak hanya itu saja yang berhasil membuat hati Tarmin menjadi lebih merekah. Pernah suatu hari, ketika terjadi hujan lebat, Tarmin mengantarkan Mba Catur pulang sampai Mba Catur mendapatkan angkutan umum menuju rumahnya, karena Mba Catur kebetulan sedang lembur dan Mas Bagas serta Pak Sam lebih dahulu pulang. Dan juga Mba Catur tidak membawa payung, alhasil Tarmin mengantarkan Mba Catur dengan menggunakan payung kantor yang cukup besar untuk menaungi 2 orang di bawahnya sampai menuju seberang, tempat Mba Catur memberhentikan angkutan umum. “Mba, payungnya Mba bawa saja sampai rumah, takut-takut nanti ketika turun dari angkot, hujannya masih belum berhenti” Tarmin hampir berteriak, karena suara hujan lebat yang cukup berisik. “Lalu kamu bagaimana Tarmin, kamu kan butuh payungnya untuk sampai kantor di seberang, kalo payungnya aku bawa, bisa-bisa kamu basah kuyup ketika sampai seberang sana”. Mba Catur pun berusaha mengimbangi suara Tarmin tadi. “tidak apa-apa kok Mba, jarak saya dari sini ke kantor hanya dipisah oleh jalan raya saja kan? Kalo Mba kan beda, Mba mesti mengendarai angkutan umum dulu sebelum sampai di rumah, belum lagi ketika turun dari angkutan umum, takutnya di daerah tempat tinggal Mba, hujannya masih blum berhenti, jadi bawa saja dulu Mba payungnya”. Tarmin kembali berteriak dengan badan yang sedikit kebasahan. “Baik kalo begitu, terima kasih Tarmin, sesampainya di Kantor, kamu buat saja mie instan buatanmu sendiri, dijamin nikmat, hehehe”. Mba Catur terlihat berbicara sambil dengan wajah yang cukup basah akibat hujan yang cukup lebat. Tarmin cukup menganggukan kepalanya sambil tersipu malu. Lalu dia memberhentikan angkutan umum untuk Mba Catur. “terima kasih Tarmin sudah mau mengantar dan meminjamkan payungnya” terlihat paras, suara dan harum parfum Mba Catur segera berlalu mengikuti angkutan umum yang dinaikinya. Dan Tarmin terlihat bahagia, terbukti, ketika Tarmin tersenyum bahagia walaupun sambil menyeberang jalanan yang diguyur oleh hujan lebat. Dan dalam rutinitas sehari-hari nya pun, Tarmin tampak lebih memperhatikan Mba Catur dengan bertanya “Mba Catur, Mba mau makan apa siang ini? Biar saya belikan”. Atau “Mba sudah sarapan? Kalau belum, saya bisa buatkan Mba telur mata sapi. Terlalu sering mie instan, itu tidak baik Mba”. Mas Bagas juga Pak Sam lambat laun mulai menyadari hal ini, dan mereka memilih untuk tidak terlalu banyak berkomentar.
Beragam catatan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa sekecil apapun yang terdapat pada rutinitas mereka, itu sangat bermakna bagi Tarmin, bahkan pikiran radikalnya dengan lancang menyebutkan bahwa, lebih baik dia basah kuyup kehujanan, asal bisa berdekatan dengan Mba Catur dalam satu payung. Namun, sekali lagi Tarmin tahu diri, tentang keberadaan dirinya dan perbedaan umur keduanya yang berbeda 4 tahun. Tarmin 23 dan mba Catur 27.
Dalam setiap harinya, rutinitas kantor tersebut selalu menyenangkan. Sifat Mas Bagas yang humoris dipadu dengan Pak Sam yang menganggap karyawan itu sebagai sahabatnya, membuat keakraban pun semakin erat dari waktu ke waktu sampai gelak tawa di ruangan itu menjadi lebih sering terjadi, bahkan seringkali mereka ber empat dapat menghabisakn waktu makan siang mereka hanya dengan tertawa sampai terbahak-bahak. Pak Sam yang dermawan pun, selalu menjadi pusat kesenangan para karyawannya. Ketika perusahaannya memenangkan tender untuk iklan produk, Pak Sam tidak segan–segan mengajak para karyawannya untuk makan di luar. Namun diantara gelak tawa yang memenuhi ruangan itu, terkadang tersembunyi sebuah kesedihan yang ikut bersembunyi di sela sela jam dinding, di sela pembatas buku, atau menyelinap masuk ke dalam lemari arsip dan yang paling parah, membuat Tarmin sedikit sesak. Ya, Tarmin tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang telah tumbuh kurang lebih selama 2 Tahun, terkadang ia butuh mengungkapkan segalanya, namun ia bingung campur takut, ia takut kalau-kalau Mba Catur malah menjauhi dirinya ketika Mba Catur tahu bahwa ia menautkan perasaan padanya. Dan Tarmin tidak berniat untuk menceritakan hal ini kepada Mas Bagas apalagi kepada Pak Sam.
Tanggal 19 Agustus. Ketika jam makan siang. Mas Bagas mengajak Tarmin untuk menemaninya merokok di luar kantor. Dan tetiba, Mas Bagas melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup membuat Tarmin terkaget-kaget. “Min, besok itu ulang tahunnya Catur loh, sudah ada rencana, untuk memberikan dia hadiah, Min?” sambil tangan Mas Bagas meraih cangkir kopi di meja istirahatnya. “Tidak Mas, saya masih malu Mas, Mas tau sendiri kan, dari tahun ke tahun saya tidak pernah memberikan Mba Catur hadiah”. Timpal tarmin. Bagas menurunkan cangkir kopinya dan kembali menyalakan batang rokok ke 2 nya, sambil berusaha memberikan pengertian kepada Tarmin. “Justru ini kesempatan kamu Min, kapan lagi kamu bisa nyoba ngasih hadiah atau kejutan buat Catur? Belum tentu tahun depan itu suasana nya sama kaya gini. Gini lo Min, sebagai seorang pria, aku ngerti kok, apa yang kamu rasakan. Namun tidak ada salahnya kita nyoba Min, setidaknya kita mencoba mengungkapkan perasaan kita dalam bentuk lain, dalam hal kejutan atau hadiah”. Mas Bagas terlihat lebih meyakinkan rekan kerjanya itu agar Tarmin, mau mengiyakan saran darinya. “baiklah Mas Bagas, saya akan mencobanya besok”. Terlihat simpul senyum kecil yang muncul dari bibir Tarmin sebagai bentuk bahwa ia setuju akan saran dari Mas Bagas. Mas Bagas pun menepuk bahu Tarmin, sebagai tanda bahwa Mas Bagas ikut mendukung rekannya itu. Tarmin pun memikirkan, kira-kira kejutan apa yang akan ia berikan untuk memaknai hari lahir nya Mba Catur, agar secara spontan, Mba Catur sendiri menjadi terkesan atasnya.
Tanggal 20 Agustus. Cuaca 07.22 ini cukup sejuk, jendelanya dibiarkan terbuka, agar semilir angin dapat mengisi kursi-kursi yang masih kosong belum terisi, disambut dengan sinar matahari yang membalut hangat, sebagai penyeimbang sejuknya udara pagi ini. Ruangan kantor itu masih terlihat sepi, namun sepertinya pandangan tersebut dilayangkan kepada meja Mba Catur yang sudah dihias menggunakan pita-pita merah muda yang diikat pada kaki-kaki kursi melewati kabel-kabel komputer sampai memunculkan simpul-simpul manis yang berada tepat di meja kerja Mba Catur, Cangkir kopi berwarna coklat muda yang merupakan warna kesukaan Mba Catur, dipadu dengan vas bunga yang berada tepat di ujung meja kerja nya. Tak lupa sepucuk surat yang dibungkus menggunakan amplop cokelat muda juga, tersimpan manis di depan monitor komputer Mba Catur. Dari dalam ruangan dekat pintu masuk yang masih terkunci, Tarmin tersenyum tersipu malu, menyaksikan pekerjaannya semalam, dalam menghias meja kerja Mba Catur dan menyiapkan kado serta menulis surat untuk Mba Catur.
Isi surat itu berbunyi :
“Selamat Pagi Mba Catur, Mba Catur sempat sarapankah tadi? Kalau tidak sempat, saya akan buatkan telur mata sapi kesukaan Mba, terlalu sering makan mie instan itu kurang baik Mba. Saya sengaja buatkan Mba Catur teh manis panas bukan kopi hitam encer seperti biasanya, sengaja Mba, biar Mba ngadepin kerjaan pagi ini dengan rileks dan pikiran yang tenang. Waduh, saya hampir lupa mengucapkan Mba, hari ini Mba mengulang tanggal pada Tahun yang berbeda, umur Mba bertambah menjadi 28 tahun, saya tidak ingin mengucapkan selamat, namun saya ingin mendoakan, selalu mendoakan agar apa yang Mba inginkan dapat terwujud, amin. Mohon maaf Mba, kali ini saya berani lancang, saya lancang karena saya ingin mengutarakan suatu hal kepada Mba Catur, maaf kalo tidak berkenan. Selama 2 tahun ini, saya hidup jauh dari dunia luar Mba. Saya tinggal di dalam ruangan ini, bangun di ruangan ini, tidur juga di ruangan ini, namun saya tidak ingin hati saya, saya buat bisu di ruangan ini. Saya ingin, hati saya berbicara, menerjemahkan segala hal yang ia temui, yang ia rasakan, atas dasar semua rutinitas yang saya jalankan. Hati saya berbicara bahwa ternyata saya dan hati saya telah jatuh dan tenggelam kedalam diri Mba Catur seutuhnya. Iya betul Mba, saya mencintai Mba Catur sedari kita mulai menjalankan rutinitas bersama-sama dalam kantor ini. Hanya saya berani mengungkapkannya sekarang. Namun Mba, perlu diingat, bahwa Cintaku ini adalah cinta yang bebas. Cintaku ini adalah cinta yang tidak ingin merangkul. Cintaku ini hanya kejutan mba, dan biarlah cintaku ini tetap dalam kejutannya, dari waktu ke waktu. Agar Mba Catur dapat merasakan setiap kejutan dari perasaanku, setiap waktu. Berbahagialah Mba, dengan siapapun Mba bertemu. Hanya jangan denganku, karena aku hanya bisa memberikan kejutan saja, bukan memberikan keutuhan. Mba tak perlu berkomentar, tak perlu menjawab, cukup tatap mata saya dan kita menjalankan aktivitas serta rutinitas seperti sebelumnya, tanpa harus dibebani oleh perasaan. Biarkan perasaan Mba jadi kejutan untuk saya. Terima kasih Mba, telah mengizinkan saya untuk berterus-terang. Sekali lagi terima kasih mba”
Tulisan merupakan ruang, nondimensional. Dimana keberadaannya tidak bisa kita ketahui dengan air kopi dan puntung rokok. Kita harus menyelami kedalamnya, hingga mampu memberi nyawa untuk tulisan tersebut. Beri ia selimut ketika malam, bangunkan ia, ketika pagi. Biarkan ia bermain ketika senja, sampai petang tiba. Hingga ia memberi ruang untuk kita, yang tak akan pernah kita temukan dalam nihilitas nihilitas yang ada.
Rabu, 28 Desember 2011
Jumat, 09 Desember 2011
Monolog sebelum tidur
Lekas kau pakai selimutmu, biar kau terhindar dari kedinginan yang menusuk rongga tubuhmu.
Perlu aku nyanyikan lagu pengantar tidur?
Ataukah dongeng yang ku sisipkan diantara kantukmu?
Sebentar, aku matikan lampu dulu ya.
Bagaimana hari ini? Apakah kau lelah berkencan seharian dengan rutinitasmu?
Baik, aku baluri kakimu, tanganmu, perutmu, punggungmu hingga kepalamu dengan kayu putih itu ya? Agar kau merasa nyaman dengan aroma nya.
Bisa kau letakkan kepalamu di antara dada dan bahuku, hingga nafasku bisa kau rasa.
Lalu, coba kau sandarkan tubuhmu hingga menyentuh tubuhku.
Dan, simpan tanganmu melingkar di pinggangku, agar aku bisa segera memeluk tubuhmu.
Sudah?
Sekarang terpejamlah, coba rasakan kelelahan itu kita bagi sama rata.
Berdoalah. kelak malam malam berikutnya kita terus diberi kesempatan seperti ini.
selamat tidur
Perlu aku nyanyikan lagu pengantar tidur?
Ataukah dongeng yang ku sisipkan diantara kantukmu?
Sebentar, aku matikan lampu dulu ya.
Bagaimana hari ini? Apakah kau lelah berkencan seharian dengan rutinitasmu?
Baik, aku baluri kakimu, tanganmu, perutmu, punggungmu hingga kepalamu dengan kayu putih itu ya? Agar kau merasa nyaman dengan aroma nya.
Bisa kau letakkan kepalamu di antara dada dan bahuku, hingga nafasku bisa kau rasa.
Lalu, coba kau sandarkan tubuhmu hingga menyentuh tubuhku.
Dan, simpan tanganmu melingkar di pinggangku, agar aku bisa segera memeluk tubuhmu.
Sudah?
Sekarang terpejamlah, coba rasakan kelelahan itu kita bagi sama rata.
Berdoalah. kelak malam malam berikutnya kita terus diberi kesempatan seperti ini.
selamat tidur
Kamis, 08 Desember 2011
Batas!

Apa yang kau ketahui mengenai batas? Mungkin sebuah penghalang bagimu untuk menyentuh sesuatu? Atau sesuatu yang siap kau dobrak agar batas itu tak kau dapatkan? Atau sesuatu yang mengganggu langkahmu? Sesuatu yang sama sekali menahanmu? Sesuatu yang membuatmu terdiam ketika kau sampai di ujungnya, di ujung batas?
Apakah kau pernah melewati sebuah batas? Kau pasti berasumsi bahwa kau sering melewati batas tersebut. Namun menurutku kau hanya memberi jarak kepada batas tersebut, bukan melewatinya. Kau fikir kau melewatinya, padahal kau tidak tahu bahwa batas tersebut telah menunggu mu dengan sunyi di ujung sana. Hingga kau terus mempercepat langkahmu untuk (kembali) melewati batas tersebut. Lalu Batas itu kembali mendahului langkahmu dan berdiri di ujung sana hingga kau kembali berfikir bahwa kau telah melewati batas itu, padahal Batas itu tidak pernah berubah, ia sama dengan apa yang coba kau lewati tadi. Terus begitu, hingga kau fikir kau adalah makhluk yang tidak memiliki batas.
Namun bagiku Batas itu adalah makna. Ia menjelma dari keterbatasannya hingga membuat segalanya menjadi tak terbatas. Batas batas itu perantara, perantara antara keterbatasannya dengan ketidakterbatasanNya. Terkadang Batas itu ada untuk membatasi sesuatu agar segala yang dibatasi bisa membuat segala bentuk diluar batas kita menjadi lebih berbatas. Batas merupakan sebuah ruang, dimana kita bisa memaklumi diri sebagai makhluk ciptaan yang berbatas. Sebuah ruang yang kita gunakan untuk merenungi keterbatasan kita. Ia selalu berkomunikasi dengan aku atau kau dengan cara yang berbeda. Sebuah batas dimana kita bisa berkomunikasi dengan keterbatasan tersebut, yang menghasilkan skema rindu yang bermakna.
Aku tak pernah untuk mencoba melewati Batas itu, aku hanya bermain dengan batas tersebut, sampai aku tak pernah bosan, sampai aku memahami batasku dan batasku memahami aku. Setiap aku berlari mengejar batasku, Ia hanya tersenyum di ujung sana sambil menungguku. Ketika aku sampai pada batas itu, aku pun menyentuhNya dan ia kembali berlari agar ia kembali ku kejar. Ia ingin dikejar, namun ia tak bisa untuk dilewati. Mau bagaimanapun, tak.
Lalu Batas itu
Berubah menjadi Bata(s)
yang membuatku TerBata(s) bata(s)
ketika aku mengetahui
Keterbata(s)anku
seperti Aku dan Kamu yang memiliki Batas
Namun aku selalu Mencintaimu Tanpa Batas!
Rabu, 07 Desember 2011
KUN !

Ini tentang apa yang dikehendaki dan apa yang tidak dikehendaki. Ketika kita hidup di bawah langit, pertanyaan pertanyaan selalu kita lontarkan terhadap pencipta kita, mengenai ketikadpuasan kita terhadap kehendak yang sudah di "KUN" kan nya. Kita selalu merasa bahwa "KUN" yang kita inginkan tidak selalu di "FAYAKUN" kan oleh Nya. Kita selalu mempunyai pandangan sendiri mengenai "KUN" yang terbaik bagi kita sendiri, seolah - olah kita tidak puas atau mungkin tidak pernah puas mengenai apa yang sudah di"FAYAKUN" kan Nya. Padahal jika kita ingat, pemahaman kita mengenai "KUN" ini adalah sangat terbatas jika dibandingkan dengan pencipta kita, yang mampu menjadikan "KUN" tersebut sampai kepada "FAYAKUN".
Ketetapan "FAYAKUN" hanya dimiliki oleh Penguasa kita. Kalaupun kita bisa mem"FAYAKUNKAN" sesuatu, itu hanyalah secuil dari ketentuan ketentuan yang sudah terbentuk, jauh sebelum kita menciptakan ketentuan tersebut. Namun kita bisa mewujudkan peran kita sebagai seorang manusia yang tak pernah lelah dalam ruang lingkup "KUN" nya agar Dia senantiasa mewujudkan "FAYAKUN" yang telah ia tetapkan untuk kita.
"FAYAKUN" itu adalah sebuah kebesaranNya dari kebesaran kebesaranNya yg tak terhingga. BagiNya "FAYAKUN" tersebut mungkin semudah membalikan telapak tangan, lain halnya dengan kita yang hanya mereposisikan "FAYAKUN" dari sudut pandang kita sebagai makhluk ciptaannya saja, dengan pemahaman yang sangat terbatas.
Jika kita analogikan. "KUN" itu adalah hanya milik manusia, dan "KUN FAYAKUN" adalah milik Tuhan. Kedua hal tersebut selalu berjalan beriringan seirama.
Tugas kita hanya berjalan dalam "KUN" yang kita miliki.
Makhluk yang bernama IDE

Setelah merasuk Kamu tiba tiba menyeruak! memaksa keluar seperti golakan air panas yang telah mencapai titik didih maksimalnya. Hingga memaksa pemiliknya untuk segera menuangkannya. Aku tidak pernah tau kamu bersembunyi dimana, hingga tau tau kamu sudah seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya disaat lengah. Dan kamu pun segera menerkam! tak pernah memberiku ancang ancang untuk menghindari diri dari terkamanmu, sampai mampus! aku dibuat mati perlahan. Kamu juga pelari yang ulung! Aku berusaha berlari dari seranganmu, namun tau tau kau sudah lebih dekat, (seolah olah) sejajar dengan nadi-ku. Mampu apa aku? (!) Jika nafasku saja sudah ditulari oleh mu. Dan anehnya. Kau terus begitu! Meskipun aku berlari secepat mungkin sampai nafasku hampir habis! kau tetap ada pada (seolah olah) masih sejajar dengan nadiku, aneh. Aku sudah berusaha mengubur diri dengan pasir. Malah kerikil. Namun kamu dengan cerdiknya menyusup melewati partikel partikel itu, merasuki tubuhku sampai kerasukan! Hingga aku mengerang, kaupun enggan keluar. Lalu aku mulai membiarkanmu hidup dalam hidupku! membiarkanmu berdiri dalam diriku! Membiarkanmu diam dalam diamku! Sampai aku tertidur, kamu menjelma menjadi sebuah birahi yang terus memaksa aku untuk orgasme, sampai mani mengerak pun! kamu masih enggan pergi. Sampai aku tak bisa tidur karena kamu berubah menjadi elegy yang hadir dalam lamunanku. Kala itu aku bersumpah, jika kamu mencoba menerkam lagi seperti binatang buas, atau kamu mencoba mempermainkan syahwatku lagi aku akan memandikan diriku dengan minyak tanah lalu aku akan membakar diriku agar kamu ikut terbakar, adil bukan? (!)
Beberapa waktu, aku mulai membiasakan kehadiranmu dalam diriku. Terbalik. Seharusnya kamu yang membiasakan dirimu dengan diriku, bukan aku. Namun aku tak ingin terkamanmu mengentikan nafasku lagi. Mau tidak mau aku harus merawatmu dan menjinakanmu, karena aku tau kamu juga sebenarnya makhluk, lebih mulia daripada iblis (malah) . emhh juga melebihi manusia, sejajar dengan nabi (barangkali), hampir. Hanya kamu tak punya raga, maka dari itu kamu selalu merasuki raga setiap manusia. Dan kenapa tidak binatang saja? (!). Dari waktu ke waktu aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu, dan lama kelamaan kita menjadi seorang rekan. Meskipun masih sering kudapati diriku sendiri mencurigai rekanku ini, namun apa mau dikata. Kamu juga tidak pernah mau bercakap cakap denganku, hanya diam saja. Dan Sungguh aneh, aku memiliki rekan yang padahal aku sendiri tidak tau rekanku itu berada dimana, yang aku tahu, rekanku itu berada dalam tubuhku, hanya percisnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Sewaktu waktu, aku mencoba menebak nebak, mungkin saja kamu berada di dalam nadiku, namun setelah ku iris nadi ku dengan sebilah pisau, aku tak mendapati, hanya darah yang keluar deras seperti aliran turbulen. Lalu aku menyimpulkan bahwa kamu berada di antara dua paru-paru, menyerap bersama karbondioksida yang aku hembuskan. Sampai aku sengaja masuk ke ruang hampa, namun aku tak mendapati mu juga. Oh, atau mungkin kamu bersembunyi di sela sela impuls otakku ini, atau mungkin kamu ada bersama detak jantungku, di sela kulit ku, tulang rawan, jari kuku, atau penis? Ah jangan sampai terjadi jika kamu mencoba berdiam di tempat itu. Rasanya aku mencoba menyebutkan semua organ dan indera pada tubuhku sampai tak ada yang terlewati pun, kamu tidak akan kudapati juga. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku lagi, yaa sebagai bentuk interaksi denganmu juga bukan? Tapi aku kira, kamu ini ajaib. Tidak pernah merasa lapar, namun lantas kenapa kamu mencoba menerkamku pada waktu itu, jika kamu menerkamku tapi tidak dimakan pada akhirnya. Sudahlah, aku sepertinya terlalu banyak dendam terhadapmu, maafkan aku ya rekanku. Dengan cara apa ya, aku mengajakmu bermain? Tidak mungkin aku mengajakmu bermain layang-layang sedangkan kamu sendiri adalah layang-layang bagi diriku sendiri, maen kelereng, Ah sudahlah, kamu diam saja disitu, meskipun aku tidak tahu kamu dimana. Dan ikutlah bersamaku kemanapun aku pergi.
Sewaktu waktu, aku berdiskusi bersama teman kampusku, tiba tiba ada yang membisiki telingaku, sampai sampai aku bisa berdiskusi dengan lancarnya. Ketika aku melakukan presentasi di kelasku, tiba tiba (lagi) ada yang membisiki telingaku lagi, sehingga aku berhasil melakukan presentasi itu layaknya seorang tenaga pengajar yang paham akan apa yang disampaikannya. Dan yang paling paling ketika aku mulai mencoba untuk menulis. kamu berteriak namun merdu kepada telingaku, merubah susunan sistem syarafku sehingga aku paham, membuat kulitku berkeringat bersamaan dengan detak jantungku yang semakin menyepat, kamu terus berteriak kepada telingaku, namun aku masih tidak tahu, sumber suarua mu itu darimana asalnya. Kamu juga mencoba menuntun jari jari tangaku dalam memilah kata hingga tulisanku mengalir sebegitu lancar. Terus menerus seperti sihir yang menyisir tiap bagian tubuhku, menyulap meskipunn aku dalam keadaan gagap. Dan sekali lagi kamu membantuku dalam setiap proses pencapaianku. Aku semakin senang bisa berkenalan dengan kamu, rekanku. Setiap hari kamu selalu membawa sesuatu yang baru, untukku.
Tiba tiba kudapati kamu pergi, menghilang, melayang entah bagaimana. Aku hanya merasakan perbedaan. Seolah diriku ini ditinggalkan oleh pengendali kedua ku selain rohku sendiri. Hampa, nafasku tak lagi tertular olehmu, nadiku bergerak stagnan, konstan. Tak pernah kurasa jantungku berdegup kencang, keringatku nyaris kering, telingaku tak ada yang membisikiku lagi, impuls impuls syaraf seperti mati tidak ada koneksi, diskusiku tak selancar waktu itu, apa yang ku presentasikan terkadang terkesan kaku. tak ada jamahan lagi terhadap tubuhku. Kamu dimana? Nyyaris aku berteriak ketika aku merasa kehilanganmu. Aku bergegas mencari mu, barangkali kamu ada di balik selimutku, namun tak ada. Di balik bantal, juga tidak. Aku cari di layang-layang yang pernah kita terbangkan, juga sama. Dibalik gelas kopi yang sering kita minum bersama, juga tidak. Kucari di asap rokok yang sering kita hisap bersama, juga sama sekali tidak ada. Aku cari ke tempat kita pertama kali bertemu dulu, sama sekali tidak ada jejakmu. Aku cari ke tempat kamu menerkamku dulu, ke tempat dimana kamu mengejarku dengan segala ketidaknyataan mu, tetap tidak ada. Sampai aku mengubur diriku sendiri, berharap kamu merasuki ku seperti kala itu. namun sampai sekarat kamu tidak datang. Aku pasrah dan menyerah, kukerahkan segala yang kupunyai untuk mencarimu namun kamu tak pernah menampakkan diri. Hampir menangis aku dibuatmu. Dan lalu aku pun tidak hampir lagi, spontan menangis.
Aku pun pasrah dan menyerah, sambil berjalan dalam kesunyian, kesepian dan kesendirian. Sehingga sampailah aku pada sebuah ketenangan, dimana aku bisa menyadari peran diriku sendiri. Menyadari dimana keberadaanku sendiri. Tiba tiba…. Kamu datang menyapa ku dengan suaramu yang khas, yang datang entah darimana asalnya, yang hanya ada diantara nyata dan tidak nyata. Aku pun sedikit berteriak yang juga entah kemana. Kenapa kamu tidak menerkamku lagi, kenapa kamu malah pergi, sehingga aku mencari arti. Aku telah kehilangan kamu, rekanku. Lain kali kalo kamu ingin pergi untuk bermain sejenak, tolong kabari. Agar aku tidak kembali mencarimu, sampai aku harus mengubur diriku sendiri. Jangan takut aku tidak memperbolehkan mu. Aku akan mengangguk, jika kamu memang ingin pergi, rekanku. Namun aku hanya ingin kamu kembali pada ku, entah dengan cara apapun, terserah. Aku hanya merasa kurang jika kamu pergi. Aku janji, akan merawatmu dengan segala yang kupunyai, agar kamu tak pergi lagi.
Dan aku pun mengerti. Rekanku ini mengajarkan, bahwa rekanku ini hidup dalam ketenangan diriku. Bersemayam pada diriku yang tenang, mengenggam diriku yang teduh. aku pun mengerti dan berjanji akan selalu jadi tempat tinggal yang sangat nyaman bagi rekanku ini. Dan aku pun memanggil rekanku ini dengan panggilan ide, agar aku tak kesusahan saat bercanda dengannya.
“apa kalian sudah mendapatkan rekan kalian sendiri? Jika sudah. Jagalah rekanmu itu, lindungi ia dengan segala ketenangan yang kalian miliki. Kembangkanlah dia, karena jika tidak. Ia akan menerkam mu tanpa ampun sampai kalian dibuat mati perlahan”
Teruntuk Senja (KU)
Apa yang akan kalian persiapkan dalam menyambut senja? Sebuah gelas teh manis hangat, barangkali. Yang diminum diatas balkon yang menghadap ke sudut perkotaan? Atau malah mandi terlebih dahulu, agar bisa menyambut senja dengan sebentuk kesegaran? Atau kalian tengah berada di kantor, menyelesaikan lembur yang telah diamanatkan. Atau mungkin kalian termasuk kepada orang yang menyambut senja dengan berpulang dari rutinitasnya. Menikmatinya di perjalanan, bersama kemacetan, bersama petugas yang sedang mengatur lalu lintas. Terjun bersama sama kedalam sebuah alur perjalanan kalian menuju rumah. Atau kalian menyambutnya dengan berkumpul bersama keluarga di rumah? Sambil membicarakan hal yang ditemui dari pagi hingga siang. Atau seperti anak anak itu, yang menyambut senja dengan bermain layang layang di sekitar rumah. Ada yang bermain petak umpet. Ada juga yang lompat tali. Terbenam jauh menuju ketertawaan. Tersusun menjadi sebuah kebebasan yang tidak akan kalian temui jika sudah dewasa. Atau hanya sekedar tersenyum dan membuka jendela apartemen, membiarkan bias bias jingga nya masuk ke dalam ruanganmu. Atau kalian yang menghampiri pedagang baso yang tengah berdiri menunggu pembeli di ujung gang rumahmu?
Senja datang dengan segala ketertarikannya, menarik kita menuju sebuah ruang yang sangat dalam melebihi tengah malam. Cahaya nya jingga. Sebagai bentuk pembiasan dari sang matahari yang sekedar mengucapkan selamat datang kepada petang. Senja hadir bersama sebuah kehangatan, memeluk setiap pengikutnya dengan penuh asa. Senja menjelma menjadi sebuah harapan, harapan akan datangnya malam yg indah. Senja menjadi sebuah titik, dimana kita berpijak pada suatu masa yang tidak akan kita temui pada siang dan malam. Senja menjelma menjadi penawar kelelahan, membiarkan pengikutnya terlelap sebelum gelap. Senja mengalir tanpa sebuah getir, menyilahkan pengikutnya untuk bermain sepuasnya. Senja mengirimkan harum melebihi parfum. Dan membiarkan para pengikutnya menciumnya.
Aku disini menatap senja dari ruang kamar kostku yg sederhana, ku biarkan cahayanya masuk hingga menyentuh kasurku , membelai tiap jahitan yg ditemuinya. Lalu kutawarkan kopi kepadanya, agar ia bebas mencicipi. Namun ia hanya mencium aroma nya. Aku mulai bercakap dengannya, dan senja menanggapinya dengan simpul senyum yg merona jingga. Aku membelainya hingga aku tak bisa merasakkan apa. Mencoba memeluknya hingga kutemui senja merasuki sela sela pelukku. Kami selalu begitu dan terus begitu. Saling merindu satu sama lain.
Kamu adalah senjaku. Datang dengan segala bentuk keindahan. Yang kucintai dengan segenap ketulusan. Aku akan terus menemuimu senjaku.
Sampai senjaku mengirimkan hujan, aku tetap senantiasa menari nari dibawahya. Karena Aku tak akan meninggalkanmu senjaku
Senja datang dengan segala ketertarikannya, menarik kita menuju sebuah ruang yang sangat dalam melebihi tengah malam. Cahaya nya jingga. Sebagai bentuk pembiasan dari sang matahari yang sekedar mengucapkan selamat datang kepada petang. Senja hadir bersama sebuah kehangatan, memeluk setiap pengikutnya dengan penuh asa. Senja menjelma menjadi sebuah harapan, harapan akan datangnya malam yg indah. Senja menjadi sebuah titik, dimana kita berpijak pada suatu masa yang tidak akan kita temui pada siang dan malam. Senja menjelma menjadi penawar kelelahan, membiarkan pengikutnya terlelap sebelum gelap. Senja mengalir tanpa sebuah getir, menyilahkan pengikutnya untuk bermain sepuasnya. Senja mengirimkan harum melebihi parfum. Dan membiarkan para pengikutnya menciumnya.
Aku disini menatap senja dari ruang kamar kostku yg sederhana, ku biarkan cahayanya masuk hingga menyentuh kasurku , membelai tiap jahitan yg ditemuinya. Lalu kutawarkan kopi kepadanya, agar ia bebas mencicipi. Namun ia hanya mencium aroma nya. Aku mulai bercakap dengannya, dan senja menanggapinya dengan simpul senyum yg merona jingga. Aku membelainya hingga aku tak bisa merasakkan apa. Mencoba memeluknya hingga kutemui senja merasuki sela sela pelukku. Kami selalu begitu dan terus begitu. Saling merindu satu sama lain.
Kamu adalah senjaku. Datang dengan segala bentuk keindahan. Yang kucintai dengan segenap ketulusan. Aku akan terus menemuimu senjaku.
Sampai senjaku mengirimkan hujan, aku tetap senantiasa menari nari dibawahya. Karena Aku tak akan meninggalkanmu senjaku
Selasa yang Tanpa Kamu
Pagi terbangun, dengan dengkur dan igau yang tertinggal di sisa malam. Sungguh sangat bersyukur karena Kesatuan dirimu adalah hal yg pertama ku tatap, setelah kamu segera berlalu ke kamar mandi untuk mandi dan yang lain. Sambil menunggu, aku membereskan kamarmu, sampai rapih dan bersih. Kamu keluar kamar mandi dengan segala balutan yang mengindahkan suasana pagi ini. Giliran aku yang bergegas ke kamar mandi. Buang air besar lalu mandi, membasuh segala peluh yg utuh dari kemarin yg belum sempat. Keluar kamar mandi, kulihat kamu sedang bersolek di depan cermin kecil, kuputuskan untuk menatapmu melukis diri, menambah keindahan yang lagi lagi untuk hari ini. Sepertiga jam kamu habiskan untuk berkarya pada wajahmu, hasilnya. Sebuah lukisan yg indah hasil karya Tuhan yang diperindah oleh dirimu, sungguh menambah asa yang lagi lagi untuk hari ini. Lalu kita berlalu menuju tempat dimana kita akan berpisah untuk sementara. Kamu yg ke Jakarta dan aku yg menuju cimahi. Tak lupa untuk membeli roti dan you c untuk menemani perjalanan kamu dan perutmu. Hingga kamu tiba di Jakarta sana, sampai kuucapkan “selamat bekerja” .
Siang pun segera datang dengan tanpa kamu dan tanpa kamu lagi. Sambil aku pun diguncang oleh perasaan lapar yang menampar. Sampai sedikit berlari karena titik hujan yg memburu. Hingga kutemu warung nasi yg sedikit sepi. Kupesan sayur mayor dan perkedel kentang kesukaanmu. Tapi aku yg makan. 5 menit kuhabiskan makanan tadi, dan segera mengambil bungkus rokok juga penyeranta. Berniat untuk sekedar berbincang dengan asap sebagai pengganti kamu. Habis satu batang, aku kembali berlomba lari dengan hujan untuk sampai di kampus duluan. Sambil berbasah karena hujan tadi ikut menghalangi, aku pun memasuki ruangan perpustakaan. Kulihat sekeliling kenapa tak ada yg berkunjung? Aku coba buka pintu namun dikunci. “sial perpustakaannya tutup”. Sampai dihubungi oleh rekan mengenai meeting untuk membahas seminar nanti. Lalu kuputuskan jam 3 untuk meetingnya, dan semoga masih ada waktu untuk menikmati senja nanti.
Jam 3 berlalu, meeting pun selesai dengan diakhiri koar koar anak tingkat 2 yg tampil so’kritis dengan teoritis yang nihil. Turun menuju lantai bawah karena takut ketinggalan senja, namun kudapati hujan yg duluan membasahi bumi. Segera memakai jaket dan menyalakan motor. Menyenangkan, berbincang dengan hujan mengenai hari ini, dan ia hanya membalas dengan turun yang semakin deras. Kulihat sekeliling, orang orang sedikit menepi untuk sekedar memasang jas hujan atau memang menepi karena enggan berinteraksi dengan hujan. Sesekali kulihat kodok kodok saling melompat kegirangan ditengah jalan dan hujan, melompat diantara putaran roda roda kendaraan yang melintas, ada yang tergilas, ada juga yang melompat hingga seberang jalan. Kulihat genting genting yang tertawa karena kehujanan, hingga aku tau genting tersebut berkawan dengan lumut yg dikirim hujan. Terus menghirup udara jalanan yang beraroma hujan, sungguh menyegarkan. Bau aspal yg bergabung dengan aroma hujan, senantiasa menyajikan kesan lain akan “kehujanan” hari ini. Tak dirasa aku pun sampai pada kamar kostku dengan keadaan yg basah. Langsung kuambil kopi sachetan, kuseduh. Tak lupa rokok yg kembali kunyalakan sebagai kawan yg tak kasat. Dalam keadaan basah, kembali ku tatap hujan yg menyapa aku. Ia tau bahwa aku sedang merindu. Merindu kamu yg sekarang sedang bekerja. Kamu yg sekarang merupakan elemen penting dalam hidupku. Senja yg terus menderu sampai gelap, sampai senja tak lagi jingga. Aku pun bergegas masuk untuk berganti pakaian, lalu terjembab di kasur sambil berselimut. Dan segera kunyalakan televise, kali ini spongebob.
18.48 WIB
“ahh selasa yg tanpa kamu, memang memaksa diriku untuk merindu.. hati hati ya disana”
Siang pun segera datang dengan tanpa kamu dan tanpa kamu lagi. Sambil aku pun diguncang oleh perasaan lapar yang menampar. Sampai sedikit berlari karena titik hujan yg memburu. Hingga kutemu warung nasi yg sedikit sepi. Kupesan sayur mayor dan perkedel kentang kesukaanmu. Tapi aku yg makan. 5 menit kuhabiskan makanan tadi, dan segera mengambil bungkus rokok juga penyeranta. Berniat untuk sekedar berbincang dengan asap sebagai pengganti kamu. Habis satu batang, aku kembali berlomba lari dengan hujan untuk sampai di kampus duluan. Sambil berbasah karena hujan tadi ikut menghalangi, aku pun memasuki ruangan perpustakaan. Kulihat sekeliling kenapa tak ada yg berkunjung? Aku coba buka pintu namun dikunci. “sial perpustakaannya tutup”. Sampai dihubungi oleh rekan mengenai meeting untuk membahas seminar nanti. Lalu kuputuskan jam 3 untuk meetingnya, dan semoga masih ada waktu untuk menikmati senja nanti.
Jam 3 berlalu, meeting pun selesai dengan diakhiri koar koar anak tingkat 2 yg tampil so’kritis dengan teoritis yang nihil. Turun menuju lantai bawah karena takut ketinggalan senja, namun kudapati hujan yg duluan membasahi bumi. Segera memakai jaket dan menyalakan motor. Menyenangkan, berbincang dengan hujan mengenai hari ini, dan ia hanya membalas dengan turun yang semakin deras. Kulihat sekeliling, orang orang sedikit menepi untuk sekedar memasang jas hujan atau memang menepi karena enggan berinteraksi dengan hujan. Sesekali kulihat kodok kodok saling melompat kegirangan ditengah jalan dan hujan, melompat diantara putaran roda roda kendaraan yang melintas, ada yang tergilas, ada juga yang melompat hingga seberang jalan. Kulihat genting genting yang tertawa karena kehujanan, hingga aku tau genting tersebut berkawan dengan lumut yg dikirim hujan. Terus menghirup udara jalanan yang beraroma hujan, sungguh menyegarkan. Bau aspal yg bergabung dengan aroma hujan, senantiasa menyajikan kesan lain akan “kehujanan” hari ini. Tak dirasa aku pun sampai pada kamar kostku dengan keadaan yg basah. Langsung kuambil kopi sachetan, kuseduh. Tak lupa rokok yg kembali kunyalakan sebagai kawan yg tak kasat. Dalam keadaan basah, kembali ku tatap hujan yg menyapa aku. Ia tau bahwa aku sedang merindu. Merindu kamu yg sekarang sedang bekerja. Kamu yg sekarang merupakan elemen penting dalam hidupku. Senja yg terus menderu sampai gelap, sampai senja tak lagi jingga. Aku pun bergegas masuk untuk berganti pakaian, lalu terjembab di kasur sambil berselimut. Dan segera kunyalakan televise, kali ini spongebob.
18.48 WIB
“ahh selasa yg tanpa kamu, memang memaksa diriku untuk merindu.. hati hati ya disana”
Pada suatu waktu, ketika..
Ada apa di depan sana? Lorongnya begitu panjang untuk dilalui, tanpa lelah, tanpa serapah. Aku mencoba menggugah sumpah, namun tak ku dapat upah. Hanya masih lorong panjang yang gelap. Sampai dimana kita tadi? Aku pun tidak tahu! Yang aku tahu hanya merokok dan meminum kopi. Kita semua bertaruh kepada masa depan. Masa yang sebenarnya merupakan kolase kolase dari bingkai bingkai hari. Bingkai bingkai hari yang aku Tanyai sepanjang hari. Lalu aku bertanya pada Horatius, apa yang bisa kita peroleh pada esok hari? Lalu Horatius pun berkata, esok hari adalah waktu dimana kita pernah bersemayam pada tenggat waktu yg masih sama. Lalu aku berhenti menanyai tentang esok hari. Hingga aku berhasil menemui kamu seorang diri, sedang berdiri di satu sisi. Aku segera bergegas untuk memiliki, lalu menjalani, mungkin sampai mati.
Lalu aku mengajakmu menelusuri lorong gelap itu. Hingga kita berhasil lewati berdua. Sampai pada satu pintu, pintu keluar yang menyampaikan kita pada suatu padang rumput. Indah, asri dan sunyi. Mungkin lebih dari cukup untuk kita berdua. Kita lekas membuat tenda. Dari ilalang yang kita dapatkan di sekitar. Hingga tenda selesai dan senja segera manghampiri. Aku lalu bermain layang layang, dan kamu bermain gelembung sabun. Disaksikan oleh langit jingga yang menertawai. Sampai senja berpamitan pada kita. Segera kuturunkan layang-layang, dan kau habiskan gelembung sabun itu untuk kau tiup ke seluruh penjuru. Semua pecah terkena langit senja yang sebentar lagi akan habis. Ia pun terkikih dan melambai tangan pada kita, yang hanya berdua di sebuah padang rumput. Menikmati walaupun baru sekali.
Malam menghampiri, aku segera mencari ranting di sekitar ilalang untuk dijadikan api kecil yang hanya menghangatkan kita berdua. Aku diam diam pergi sebentar untuk mencari beberapa helai daun daunan yang nantinya dijadikan selimut untukmu yg sedikit menggigil. Ku atur sedemikian rupa, agar tidak ada rongga yang terbuka, tidak ada rongga hingga udara sebuihpun tak bisa merasuk tubuhmu. Dan kuhempaskan selimut daun itu sampai menjangkau seluruh tubuhmu. Lalu aku pun ikut tidur dengan memeluk dirimu. Lalu kita terhempas ke dalam alam bawah sadar dimana raga mu dan raga ku saling bersemayam dalam ketenangan.
Lalu kita terbangun di pagi hari. Dibangunkan oleh angin yg meniupkan ilalang menuju suatu irama, hingga mereka menimbulkan irama desiran sunyi yang beresonansi. Seraya angin pagi segar ikut berkenalan dengan menyentuh kulit kulit kami yg masih utuh. Kami pun saling menatap, sontak tersenyum. Hingga kami tahu apa itu bahagia. Kami keluar tenda. Mengucpkan selamat pagi kepada sekitar. Dan dibalas kali ini tidak hanya oleh desir ilalang dan angin yg menyentuh, tapi datang sang matahari dan awan putih yang masih malu malu untuk berucap. Kami tersenyum, lalu matahari mulai berdiskusi dengan kami melalui hangat yg ia berikan. Giliran awan yang juga memperkenalkan kekasihnya yg bernama langit. Sungguh sebuah simbiosis yang benar benar sempurna. Kami berdua berpegang tangan, lalu mencari barangkali ada telaga yang akan kami temui. Lalu berhenti lah kamu pada sebuah telaga yang jernih. Dia merefleksikan semua kehidupan di atasnya. Membiaskan semua bentuk bayangan yang mendekati nya. Hingga kami tertawa sendiri akan cermin alami yang kami temui. Kami berkenalan dengan sang telaga, kami menurunkan tangan kami bersama sama untuk menjangkau permukaan telaga. Segera segar yang dirasa. Kami pun menciprat cipratkan air telaga itu ke segala arah, berharap agar angin, ilalang, awan, langit dan matahari dapat merasakan kenikmatan ini. Kami tertawa riang. Mereka juga.
Sampai menuju siang, kali ini giliran kami bermain bersama telaga. Karena matahari sedang bermain bersama ilalang, ia menurunkan panasnya untuk fotosintesis ilalang. Kami bermain bergiliran, sekali kami melompat bersama angin untuk selanjutnya berendam bersama telaga, atau sekedar berlari dan berteduh bersama ilalang. Kali ini tidak ada layang layang, tidak juga gelembung sabun. Kami cukup puas berada disini bersama sahabat sahabat terbaik kami, abadi dalam kesederhanaan yang sangat mewah.
Sampai senja, petang, malam dan kembali lagi menjadi pagi. Kami saling menemani dan saling menjaga sampai akhir hayat kami
Lalu aku mengajakmu menelusuri lorong gelap itu. Hingga kita berhasil lewati berdua. Sampai pada satu pintu, pintu keluar yang menyampaikan kita pada suatu padang rumput. Indah, asri dan sunyi. Mungkin lebih dari cukup untuk kita berdua. Kita lekas membuat tenda. Dari ilalang yang kita dapatkan di sekitar. Hingga tenda selesai dan senja segera manghampiri. Aku lalu bermain layang layang, dan kamu bermain gelembung sabun. Disaksikan oleh langit jingga yang menertawai. Sampai senja berpamitan pada kita. Segera kuturunkan layang-layang, dan kau habiskan gelembung sabun itu untuk kau tiup ke seluruh penjuru. Semua pecah terkena langit senja yang sebentar lagi akan habis. Ia pun terkikih dan melambai tangan pada kita, yang hanya berdua di sebuah padang rumput. Menikmati walaupun baru sekali.
Malam menghampiri, aku segera mencari ranting di sekitar ilalang untuk dijadikan api kecil yang hanya menghangatkan kita berdua. Aku diam diam pergi sebentar untuk mencari beberapa helai daun daunan yang nantinya dijadikan selimut untukmu yg sedikit menggigil. Ku atur sedemikian rupa, agar tidak ada rongga yang terbuka, tidak ada rongga hingga udara sebuihpun tak bisa merasuk tubuhmu. Dan kuhempaskan selimut daun itu sampai menjangkau seluruh tubuhmu. Lalu aku pun ikut tidur dengan memeluk dirimu. Lalu kita terhempas ke dalam alam bawah sadar dimana raga mu dan raga ku saling bersemayam dalam ketenangan.
Lalu kita terbangun di pagi hari. Dibangunkan oleh angin yg meniupkan ilalang menuju suatu irama, hingga mereka menimbulkan irama desiran sunyi yang beresonansi. Seraya angin pagi segar ikut berkenalan dengan menyentuh kulit kulit kami yg masih utuh. Kami pun saling menatap, sontak tersenyum. Hingga kami tahu apa itu bahagia. Kami keluar tenda. Mengucpkan selamat pagi kepada sekitar. Dan dibalas kali ini tidak hanya oleh desir ilalang dan angin yg menyentuh, tapi datang sang matahari dan awan putih yang masih malu malu untuk berucap. Kami tersenyum, lalu matahari mulai berdiskusi dengan kami melalui hangat yg ia berikan. Giliran awan yang juga memperkenalkan kekasihnya yg bernama langit. Sungguh sebuah simbiosis yang benar benar sempurna. Kami berdua berpegang tangan, lalu mencari barangkali ada telaga yang akan kami temui. Lalu berhenti lah kamu pada sebuah telaga yang jernih. Dia merefleksikan semua kehidupan di atasnya. Membiaskan semua bentuk bayangan yang mendekati nya. Hingga kami tertawa sendiri akan cermin alami yang kami temui. Kami berkenalan dengan sang telaga, kami menurunkan tangan kami bersama sama untuk menjangkau permukaan telaga. Segera segar yang dirasa. Kami pun menciprat cipratkan air telaga itu ke segala arah, berharap agar angin, ilalang, awan, langit dan matahari dapat merasakan kenikmatan ini. Kami tertawa riang. Mereka juga.
Sampai menuju siang, kali ini giliran kami bermain bersama telaga. Karena matahari sedang bermain bersama ilalang, ia menurunkan panasnya untuk fotosintesis ilalang. Kami bermain bergiliran, sekali kami melompat bersama angin untuk selanjutnya berendam bersama telaga, atau sekedar berlari dan berteduh bersama ilalang. Kali ini tidak ada layang layang, tidak juga gelembung sabun. Kami cukup puas berada disini bersama sahabat sahabat terbaik kami, abadi dalam kesederhanaan yang sangat mewah.
Sampai senja, petang, malam dan kembali lagi menjadi pagi. Kami saling menemani dan saling menjaga sampai akhir hayat kami
Awal Kamis di Desember
Entah ada perasaan apa yang menyeruak ke dalam relung. Ketika mulai menuliskan sesuatu pada layar monitor. Melebihi kegugupan ketika menyeberang dI tengah jalan tol, melebihi kebimbangan saat ingin mencoba melompat dari atas gedung apartemen berlantai 20. Entah apa. Padahal aku sendiri belum pernah melakukan itu semua. Hanya, gugup pada saat menulis mempunyai kesan tersendiri. Ia hidup di antara impuls impuls seseorang yang mentransformasikan makna melalui tulisan.
Ingin rasanya setiap hari menuliskan makna makna yang aku dapatkan tentang segala sesuatu, namun nyatanya aku tak bisa. Kamu tahu kenapa? Karena ada waktunya ketika makna tersebut menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Menjelma menjadi sesuatu yang harus benar benar aku jaga dan rawat, yaitu kamu. Dan makna tersebut akan lebih hidup jika aku memaknainya dengan sikap. Seperti layaknya laki-laki yang menyayangimu dengan sikap bukan hanya dengan tulisan. Melindungimu dengan dekapan bukan hanya dengan curhatan.
Ini hari ke- 54 setelah kita bersama. Tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan. Kebahagiaan kebahagiaan yang aku rasakan melebihi 54 hari. Waktu yang aku dan kamu lewati seperti menjangkau seribu hari atau berapapun kelipatan nya. Sangat banyak makna yang bisa aku ungkap mengenai keberadaan dirimu. Mulai dari perubahan pemikiran, sikap pendewasaan, rutinitas, misalnya cara mencuci kaki sampai kepada apa yg aku “makan”. Jujur, aku belum pernah merasa se-makna ini sebelumnya. Aku sangat senang, dan bahagia tiba tiba mengikutiku dalam keadaan apapun. 54 hari ini sangat bermakna. Dan 54 hari ini juga sangat menakutiku dengan kalimat “aku tak mau kehilanganmu”. Terkadang dalam 54 hari ini ada rindu yang mengisi setiap kekosongan ketika kita berjauhan. Terkadang membuatku sedikit kesepian. Dan sedikit jenaka, karena padahal kita hanya berpisah tidak sampai 1 bulan, hanya beberapa hari dalam hitungan minggu. Hanya, aku juga tak ingin menutupi hal itu. Memang seperti itulah yg kurasakan. Sekarang hari kamis, kamu sedang dalam waktu bekerja dan aku tetap sedang kuliahkita sedang tidak bertemu. Dan setiap hari aku selalu berdoa, agar hati kita saling menjaga satu sama lain. Aku percaya bahwa kamu adalah seorang perempuan bijak. Yang tahu mana tentang apa yang diketahuinya.
Malam ini yang sekali lagi tanpa kamu. Aku tak mau terpejam sampai kantuk ini menuju sesuatu yg kelam. Aku berharap malam semakin panjang agar aku bisa menyingkap rahasia dibalik gelap malam. Dan malam semakin lapang, agar aku bisa melihat indahnya ragamu ketika kamu mulai terpejam. Aku mungkin telah menjadi selimutmu, yg membantumu menahan gigil yang kau dapat di awal malam desember. Juga memelukmu lebih dekap daripada pengap, lebih erat daripada urat.
Ingin rasanya setiap hari menuliskan makna makna yang aku dapatkan tentang segala sesuatu, namun nyatanya aku tak bisa. Kamu tahu kenapa? Karena ada waktunya ketika makna tersebut menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Menjelma menjadi sesuatu yang harus benar benar aku jaga dan rawat, yaitu kamu. Dan makna tersebut akan lebih hidup jika aku memaknainya dengan sikap. Seperti layaknya laki-laki yang menyayangimu dengan sikap bukan hanya dengan tulisan. Melindungimu dengan dekapan bukan hanya dengan curhatan.
Ini hari ke- 54 setelah kita bersama. Tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan. Kebahagiaan kebahagiaan yang aku rasakan melebihi 54 hari. Waktu yang aku dan kamu lewati seperti menjangkau seribu hari atau berapapun kelipatan nya. Sangat banyak makna yang bisa aku ungkap mengenai keberadaan dirimu. Mulai dari perubahan pemikiran, sikap pendewasaan, rutinitas, misalnya cara mencuci kaki sampai kepada apa yg aku “makan”. Jujur, aku belum pernah merasa se-makna ini sebelumnya. Aku sangat senang, dan bahagia tiba tiba mengikutiku dalam keadaan apapun. 54 hari ini sangat bermakna. Dan 54 hari ini juga sangat menakutiku dengan kalimat “aku tak mau kehilanganmu”. Terkadang dalam 54 hari ini ada rindu yang mengisi setiap kekosongan ketika kita berjauhan. Terkadang membuatku sedikit kesepian. Dan sedikit jenaka, karena padahal kita hanya berpisah tidak sampai 1 bulan, hanya beberapa hari dalam hitungan minggu. Hanya, aku juga tak ingin menutupi hal itu. Memang seperti itulah yg kurasakan. Sekarang hari kamis, kamu sedang dalam waktu bekerja dan aku tetap sedang kuliahkita sedang tidak bertemu. Dan setiap hari aku selalu berdoa, agar hati kita saling menjaga satu sama lain. Aku percaya bahwa kamu adalah seorang perempuan bijak. Yang tahu mana tentang apa yang diketahuinya.
Malam ini yang sekali lagi tanpa kamu. Aku tak mau terpejam sampai kantuk ini menuju sesuatu yg kelam. Aku berharap malam semakin panjang agar aku bisa menyingkap rahasia dibalik gelap malam. Dan malam semakin lapang, agar aku bisa melihat indahnya ragamu ketika kamu mulai terpejam. Aku mungkin telah menjadi selimutmu, yg membantumu menahan gigil yang kau dapat di awal malam desember. Juga memelukmu lebih dekap daripada pengap, lebih erat daripada urat.
Langganan:
Postingan (Atom)