Rabu, 07 Desember 2011

Selasa yang Tanpa Kamu

Pagi terbangun, dengan dengkur dan igau yang tertinggal di sisa malam. Sungguh sangat bersyukur karena Kesatuan dirimu adalah hal yg pertama ku tatap, setelah kamu segera berlalu ke kamar mandi untuk mandi dan yang lain. Sambil menunggu, aku membereskan kamarmu, sampai rapih dan bersih. Kamu keluar kamar mandi dengan segala balutan yang mengindahkan suasana pagi ini. Giliran aku yang bergegas ke kamar mandi. Buang air besar lalu mandi, membasuh segala peluh yg utuh dari kemarin yg belum sempat. Keluar kamar mandi, kulihat kamu sedang bersolek di depan cermin kecil, kuputuskan untuk menatapmu melukis diri, menambah keindahan yang lagi lagi untuk hari ini. Sepertiga jam kamu habiskan untuk berkarya pada wajahmu, hasilnya. Sebuah lukisan yg indah hasil karya Tuhan yang diperindah oleh dirimu, sungguh menambah asa yang lagi lagi untuk hari ini. Lalu kita berlalu menuju tempat dimana kita akan berpisah untuk sementara. Kamu yg ke Jakarta dan aku yg menuju cimahi. Tak lupa untuk membeli roti dan you c untuk menemani perjalanan kamu dan perutmu. Hingga kamu tiba di Jakarta sana, sampai kuucapkan “selamat bekerja” .

Siang pun segera datang dengan tanpa kamu dan tanpa kamu lagi. Sambil aku pun diguncang oleh perasaan lapar yang menampar. Sampai sedikit berlari karena titik hujan yg memburu. Hingga kutemu warung nasi yg sedikit sepi. Kupesan sayur mayor dan perkedel kentang kesukaanmu. Tapi aku yg makan. 5 menit kuhabiskan makanan tadi, dan segera mengambil bungkus rokok juga penyeranta. Berniat untuk sekedar berbincang dengan asap sebagai pengganti kamu. Habis satu batang, aku kembali berlomba lari dengan hujan untuk sampai di kampus duluan. Sambil berbasah karena hujan tadi ikut menghalangi, aku pun memasuki ruangan perpustakaan. Kulihat sekeliling kenapa tak ada yg berkunjung? Aku coba buka pintu namun dikunci. “sial perpustakaannya tutup”. Sampai dihubungi oleh rekan mengenai meeting untuk membahas seminar nanti. Lalu kuputuskan jam 3 untuk meetingnya, dan semoga masih ada waktu untuk menikmati senja nanti.

Jam 3 berlalu, meeting pun selesai dengan diakhiri koar koar anak tingkat 2 yg tampil so’kritis dengan teoritis yang nihil. Turun menuju lantai bawah karena takut ketinggalan senja, namun kudapati hujan yg duluan membasahi bumi. Segera memakai jaket dan menyalakan motor. Menyenangkan, berbincang dengan hujan mengenai hari ini, dan ia hanya membalas dengan turun yang semakin deras. Kulihat sekeliling, orang orang sedikit menepi untuk sekedar memasang jas hujan atau memang menepi karena enggan berinteraksi dengan hujan. Sesekali kulihat kodok kodok saling melompat kegirangan ditengah jalan dan hujan, melompat diantara putaran roda roda kendaraan yang melintas, ada yang tergilas, ada juga yang melompat hingga seberang jalan. Kulihat genting genting yang tertawa karena kehujanan, hingga aku tau genting tersebut berkawan dengan lumut yg dikirim hujan. Terus menghirup udara jalanan yang beraroma hujan, sungguh menyegarkan. Bau aspal yg bergabung dengan aroma hujan, senantiasa menyajikan kesan lain akan “kehujanan” hari ini. Tak dirasa aku pun sampai pada kamar kostku dengan keadaan yg basah. Langsung kuambil kopi sachetan, kuseduh. Tak lupa rokok yg kembali kunyalakan sebagai kawan yg tak kasat. Dalam keadaan basah, kembali ku tatap hujan yg menyapa aku. Ia tau bahwa aku sedang merindu. Merindu kamu yg sekarang sedang bekerja. Kamu yg sekarang merupakan elemen penting dalam hidupku. Senja yg terus menderu sampai gelap, sampai senja tak lagi jingga. Aku pun bergegas masuk untuk berganti pakaian, lalu terjembab di kasur sambil berselimut. Dan segera kunyalakan televise, kali ini spongebob.
18.48 WIB
“ahh selasa yg tanpa kamu, memang memaksa diriku untuk merindu.. hati hati ya disana”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar