Entah ada perasaan apa yang menyeruak ke dalam relung. Ketika mulai menuliskan sesuatu pada layar monitor. Melebihi kegugupan ketika menyeberang dI tengah jalan tol, melebihi kebimbangan saat ingin mencoba melompat dari atas gedung apartemen berlantai 20. Entah apa. Padahal aku sendiri belum pernah melakukan itu semua. Hanya, gugup pada saat menulis mempunyai kesan tersendiri. Ia hidup di antara impuls impuls seseorang yang mentransformasikan makna melalui tulisan.
Ingin rasanya setiap hari menuliskan makna makna yang aku dapatkan tentang segala sesuatu, namun nyatanya aku tak bisa. Kamu tahu kenapa? Karena ada waktunya ketika makna tersebut menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Menjelma menjadi sesuatu yang harus benar benar aku jaga dan rawat, yaitu kamu. Dan makna tersebut akan lebih hidup jika aku memaknainya dengan sikap. Seperti layaknya laki-laki yang menyayangimu dengan sikap bukan hanya dengan tulisan. Melindungimu dengan dekapan bukan hanya dengan curhatan.
Ini hari ke- 54 setelah kita bersama. Tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan. Kebahagiaan kebahagiaan yang aku rasakan melebihi 54 hari. Waktu yang aku dan kamu lewati seperti menjangkau seribu hari atau berapapun kelipatan nya. Sangat banyak makna yang bisa aku ungkap mengenai keberadaan dirimu. Mulai dari perubahan pemikiran, sikap pendewasaan, rutinitas, misalnya cara mencuci kaki sampai kepada apa yg aku “makan”. Jujur, aku belum pernah merasa se-makna ini sebelumnya. Aku sangat senang, dan bahagia tiba tiba mengikutiku dalam keadaan apapun. 54 hari ini sangat bermakna. Dan 54 hari ini juga sangat menakutiku dengan kalimat “aku tak mau kehilanganmu”. Terkadang dalam 54 hari ini ada rindu yang mengisi setiap kekosongan ketika kita berjauhan. Terkadang membuatku sedikit kesepian. Dan sedikit jenaka, karena padahal kita hanya berpisah tidak sampai 1 bulan, hanya beberapa hari dalam hitungan minggu. Hanya, aku juga tak ingin menutupi hal itu. Memang seperti itulah yg kurasakan. Sekarang hari kamis, kamu sedang dalam waktu bekerja dan aku tetap sedang kuliahkita sedang tidak bertemu. Dan setiap hari aku selalu berdoa, agar hati kita saling menjaga satu sama lain. Aku percaya bahwa kamu adalah seorang perempuan bijak. Yang tahu mana tentang apa yang diketahuinya.
Malam ini yang sekali lagi tanpa kamu. Aku tak mau terpejam sampai kantuk ini menuju sesuatu yg kelam. Aku berharap malam semakin panjang agar aku bisa menyingkap rahasia dibalik gelap malam. Dan malam semakin lapang, agar aku bisa melihat indahnya ragamu ketika kamu mulai terpejam. Aku mungkin telah menjadi selimutmu, yg membantumu menahan gigil yang kau dapat di awal malam desember. Juga memelukmu lebih dekap daripada pengap, lebih erat daripada urat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar