Jumat, 12 Maret 2010

malam hitam legam

Chrushed stars-for someone with amnesia masih mengalun lembut ditelingaku. Secangkir kopi dan satu bungkus nikotin masih belum lelah menemaniku di pagi hari yang paling pagi ini. Di luar kebetulan tidak sedang hujan, tetapi dingin itu masih saja berontak untuk menyentuh tubuhku. Entah apa yang aku tunggu, hingga sampai detik ini mata ku belum mau diajak untuk terlelap. Mungkin karena malam ini terlalu indah, mungkin karena efek nikotin ditambah caffein yang menstimulasi otakku untuk terus berpikir, mungkin ada segenggam masalah yang kuhisap secara paksa yang menimbulkan rasa sesak di dalam dada atau mungkin aku terlalu penasaran untuk melihat seperti apa rupa besok.
Masih di luar sana, suara mesin beroda empat atau lebih masih terlihat sibuk dengan perjalanannya. Apa yang mereka tuju? Apa yang mereka alami di perjalanan? Lelahkah mereka? Mungkinkah mereka menuju suatu titik yang sama? Semua selalu berakhir dengan tanda tanya. Roda empat atau lebih itu seakan-akan merefleksikan semua kegiatanku yang tiada habisnya, mereka (roda empat atau lebih) juga senantiasa menggambarkan sebuah perjalanan yang tertuju pada suatu tanda tanya. Aku masih belum bisa mengerti itu, yang jelas hari ini aku ingin menikmati malam pemberian Tuhan ini, aku ingin menikmati detik-detik yang nikmat ketika kuminum kopiku dan ku hisap nikotinku.
Tepat dari dalam ruangan kerja ku kutatap indahnya langit yang hitam legam tanpa terlihat setitik pun bintang yang muncul, lantas kenapa langit yang indah itu selalu diidentikan dengan warna biru atau jingga , yang memunculkan benda-benda ruang angkasa yang menghiasi langit tersebut. Mengapa langit hitam legam yang tadi kusebutkan itu tidak termasuk dalam kategori langit yang indah. Apakah segala sesuatu harus dilihat dari sisi pewarnaan yang sempurna? (jangan sedih malam hitam legam, aku disini untuk menemanimu). Di pagi hari, disaat matahari muncul aku selalu merindukan setangkup tengah malam yang tanpa bintang. (sebentar-sebentar aku mulai melayangkan pandanganku ke arah luar lagi) "Kata siapa aku sendiri, lihatlah keluar disana masih banyak pelacur yang menikmati malamnya, lihat juga di pinggir kios itu masih banyak pemuda yang mengobrol dengan meminum kopi bukan?"
Cobalah menikmati keindahan itu dari sisi mereka.
"Hmmm, seperti apa rupa esok?" jangan tanya aku, aku tak tahu seperti apa rupa esok itu. Terkadang aku terjaga sampai larut pagi hanya untuk tahu seperti apa rupa esok itu untuk pertama kali. Aku ingin menikmati esok itu dengan penuh kejutan, tetapi aku masih tetap belum bisa, karena mata ini selalu penasaran menyaksikan hari esok untuk pertama kali.
Rencananya besok saya akan pergi ke bandung untuk sekedar menyegarkan kembali pikiran saya yang terlalu gerah karena diisi oleh segenggam rutinitas yang stagnan, itu hanya sebatas rencana!
terima kasih Tuhan, kau telah memberikan malam yang begitu indah tanpa bintang, tanpa hujan, penuh kekosongan. Sujud ini kupersembahkan untuk mu, semoga esok hari matahari tidak lupa harus terbit dari arah mana dulu. Semoga malam-malam besok terus seperti ini. Selamat malam Tuhan!
(crushed stars sudah lelah bernyanyi, kopi menuju lambung, nikotin sudah hangus menjadi abu, malam-malam semakin kosong. Dan aku pun mulai enyah dari depan mereka) "selamat pagi malam"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar